Selasa, 17 Maret 2015

Eceng Gondok, Musibah jadi Berkah



Oleh : Casius Ajang Wikarsa
Wawancara eksklusif dengan seorang pemanen eceng gondok di Danau Rawa Pening.
Artikel ini dibuat sebagai bahan tugas mata kuliah Hukum Ketenagakerjaan.


Eceng Gondok, Musibah jadi Berkah

Eceng gondok atau enceng gondok (Eichhornia crassipers) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Selain dikenal dengan nama eceng gondok, di beberapa daerah di Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama Tumpe. Eceng gondok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuwan bernama Carl Friedrich Philipp von Martius, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 ketika sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brasil. Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehinga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.[1]

Ambarawa yang wilayahnya berdekatan dengan Danau Rawa Pening dinilai cocok untuk pengembangan usaha kerajinan tumbuhan eceng gondok. Kondisi ini dimanfaatkan oleh Pak Listyo (47 tahun), warga desa Banyubiru, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang untuk mengolah tumbuhan tersebut menjadi kerajinan yang beraneka ragam.

Pria yang juga bekerja sebagai petani ini mulai serius menekuni pekerjaan sebagai pemanen eceng gondok setelah tumbuhan tersebut mulai tumbuh di areal danau seluas 2.670 ha. “Awalnya saya hanya seorang petani di Banyubiru, sekarang bisa mencari tambahan uang dari eceng gondok ini,” katanya.

Pak Listyo setiap harinya berangkat ke danau saat hari masih pagi buta. “Rutin setelah shalat subuh, kami para pemanen pergi ke danau,” jelasnya. Biasanya pemanenan dilakukan hingga pukul 11:30 atau sekitar enam jam setiap harinya.Di awal pekerjaannya, ia menyewa sebuah perahu berukuran berkisar2,5 m x 0,6 m x 0,3 m untuk panen eceng gondok dengan muatan 5-6 ikat eceng gondok yang masing-masing ikat memiliki berat sekitar 30 kg. Namun di awal usahanya tersebut, dia sempat meninggalkan dunia eceng gondok karena berfokus panen raya padi di sawahnya. Hanya kemudian dunia eceng gondok dirasa memberi keuntungan yang tidak sedikit. Hanya selang beberapa bulan, ia kembali memanen eceng gondok.

Lambat laun Pak Listyo merasa nyaman sebagai pemanen eceng gondok, dan sejak tahun 2003 ia benar-benar berfokus menjadi pemanen eceng gondok yang telah menembus pasar luar negeri, Belanda. “Pekerjaan (pemanen eceng gondok) ini memberikan keuntungan lebih. Selain eceng gondok yang diekspor ke Belanda, saya juga tidak harus menunggu lama untuk mendapatkan uang”, ujarnya.

Melihat peluang ke depan yang masih sangat potesial, Bapak tiga anak ini akhirnya tidak puas hanya sebagai pemanen eceng gondok, tetapi memutuskan melakukan pembuatan kerajinan sendiri, yakni dimulai dari penjemuran. “(Eceng gondok) ini dijemur tujuannya supaya batangnya bisa benar-benar kering”, tegasnya. Kebetulan wilayah Banyubiru tempat ia tinggal sebagian masyarakatnya berprofesi sebagai pengrajin eceng gondok. Proses penjemuran normal berlangsung selama tiga hari pada musim kemarau. Di musim penghujan, penjemuran bisa berlangsung hingga satu minggu sampai batang tersebut kering total.


“Belum lama saya melakukan pembuatan kerajinan sendiri, sekitar 3,5 tahun yang lalu. Saat ini kondisinya permintaan eceng gondok kering terutama untuk pasar luar negeri meningkat. Selanjutnya akan terus panen setiap harinya dengan volume hasil yang diperkirakan akan terus bertambah,” tambahnya.

Dewasa ini muncul wacana bahwa pemerintah setempat akan melakukan pembersihan eceng gondok yang termasuk tumbuhan gulma tersebut demi kepentingan pariwisata. Namun warga sekitar menolak keras. Sebab, bagi mereka eceng gondok telah memberikan lapangan pekerjaan dan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal. 







Rawa Pening // Pic by : Maria Ayu Wijayanti // 1 Maret 2015


[1]id.m.wikipedia.org/wiki/Eceng_gondok