Nikmati momen menanam guys, jiwa muda! Apa aja, bisa bibit pohon, bibit buah, tanaman buah dalam pot (tabulampot), bibit sayuran sekalipun. Cause someday, lahan-lahan subur disana akan ditumbuhi beton bahkan beralih fungsi menjadi perumahan. So mumpung belum terlambat mulailah menanam sejak dini. Manfaatkan lahan yang ada di sekitar tempat tinggalmu guys. Selain bikin hijau bumi kita, hasil panen bisa kita konsumsi sendiri secara lebih sehat karena bebas pestisida alias organik. Sekaligus sebagai solusi dari meroketnya harga sayuran. Di bawah ini adalah foto tanaman cabai, terong, seledri, dan selada.
#fightforfarm #marihijaukanbumi #menanamsejakdini #pertanianorganik
Agrowikarsa
Ini adalah sebuah blog pribadi saya mulai dari kejadian sehari-hari, ringkasan materi kuliah, hingga opini mengenai suatu peristiwa - sebagai media untuk melatih kemampuan menulis dan berinteraksi dengan sahabat-sahabat blogger.
Sabtu, 08 Agustus 2015
Selasa, 17 Maret 2015
Eceng Gondok, Musibah jadi Berkah
Oleh : Casius Ajang Wikarsa
Wawancara eksklusif dengan seorang pemanen eceng gondok di Danau Rawa Pening.
Artikel ini dibuat sebagai bahan tugas mata kuliah Hukum Ketenagakerjaan.
Wawancara eksklusif dengan seorang pemanen eceng gondok di Danau Rawa Pening.
Artikel ini dibuat sebagai bahan tugas mata kuliah Hukum Ketenagakerjaan.
Eceng Gondok, Musibah jadi Berkah

Eceng gondok atau enceng gondok (Eichhornia crassipers) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Selain dikenal dengan nama eceng gondok, di beberapa daerah di Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama Tumpe. Eceng gondok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuwan bernama Carl Friedrich Philipp von Martius, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 ketika sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brasil. Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehinga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.[1]
Ambarawa yang wilayahnya berdekatan dengan Danau Rawa Pening dinilai cocok untuk pengembangan usaha kerajinan tumbuhan eceng gondok. Kondisi ini dimanfaatkan oleh Pak Listyo (47 tahun), warga desa Banyubiru, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang untuk mengolah tumbuhan tersebut menjadi kerajinan yang beraneka ragam.
Pria yang juga bekerja sebagai petani ini mulai serius menekuni pekerjaan sebagai pemanen eceng gondok setelah tumbuhan tersebut mulai tumbuh di areal danau seluas 2.670 ha. “Awalnya saya hanya seorang petani di Banyubiru, sekarang bisa mencari tambahan uang dari eceng gondok ini,” katanya.
Pak Listyo setiap harinya berangkat ke danau saat hari masih pagi buta. “Rutin setelah shalat subuh, kami para pemanen pergi ke danau,” jelasnya. Biasanya pemanenan dilakukan hingga pukul 11:30 atau sekitar enam jam setiap harinya.Di awal pekerjaannya, ia menyewa sebuah perahu berukuran berkisar2,5 m x 0,6 m x 0,3 m untuk panen eceng gondok dengan muatan 5-6 ikat eceng gondok yang masing-masing ikat memiliki berat sekitar 30 kg. Namun di awal usahanya tersebut, dia sempat meninggalkan dunia eceng gondok karena berfokus panen raya padi di sawahnya. Hanya kemudian dunia eceng gondok dirasa memberi keuntungan yang tidak sedikit. Hanya selang beberapa bulan, ia kembali memanen eceng gondok.
Lambat laun Pak Listyo merasa nyaman sebagai pemanen eceng gondok, dan sejak tahun 2003 ia benar-benar berfokus menjadi pemanen eceng gondok yang telah menembus pasar luar negeri, Belanda. “Pekerjaan (pemanen eceng gondok) ini memberikan keuntungan lebih. Selain eceng gondok yang diekspor ke Belanda, saya juga tidak harus menunggu lama untuk mendapatkan uang”, ujarnya.
Melihat peluang ke depan yang masih sangat potesial, Bapak tiga anak ini akhirnya tidak puas hanya sebagai pemanen eceng gondok, tetapi memutuskan melakukan pembuatan kerajinan sendiri, yakni dimulai dari penjemuran. “(Eceng gondok) ini dijemur tujuannya supaya batangnya bisa benar-benar kering”, tegasnya. Kebetulan wilayah Banyubiru tempat ia tinggal sebagian masyarakatnya berprofesi sebagai pengrajin eceng gondok. Proses penjemuran normal berlangsung selama tiga hari pada musim kemarau. Di musim penghujan, penjemuran bisa berlangsung hingga satu minggu sampai batang tersebut kering total.
Rawa Pening // Pic by : Maria Ayu Wijayanti // 1 Maret 2015
[1]id.m.wikipedia.org/wiki/Eceng_gondok
Jumat, 19 Desember 2014
Hari Ibu 2014
Teruntuk Ibuku
tercinta,
Kalimat-kalimat
yang pantas aku ucapkan di Hari Ibu 22 Desember 2014 ini:
“Maaf aku sering
tak sabar mengajarkan Ibu mengoperasikan laptop. Padahal, Ibu tak
pernah lelah saat mengajariku berbicara atau membaca."
“Aku sedang menikmati hidupku
saat ini. Namun kadang aku begitu sibuk, sampai lupa bahwa Ibu ingin
dikabari sekali-sekali.”“Aku ingat saat Ibu marah karena sesuatu hal. Pendapat kita akan selalu berbeda dalam beberapa hal, dan aku sedang belajar untuk menerimanya.”
Walau pun engkau tak berpendidikan tinggi dan tak pandai bicara dalam berbagai bahasa, namun ada satu yang sering aku lalaikan yaitu bahasa kasih sayang.
Terima kasih Ibu.
Kamis, 03 Juli 2014
Re-Indonesianisasi Bangsa
Re-Indonesianisasi Bangsa
Rakyat menangis,
Pemimpin Bangsa tertawa.
Ideologi Bangsa dikhianati,
Wilayah NKRI digugat.
Bangsa dinodai oleh dosa bangsa.
Alam dieksploitasi dan ditelantarkan,
Agama dipolitisasi dan negara diagamaisasi.
Kita
butuh pemimpin yang bersih, punya karakter, punya rekam jejak yang jelas, dan
sebagai tokoh anti korupsi. Kita ingin negeri ini ada perubahan.
Dan
saatnya perubahan itu dimulai dengan pemimpin yang bersih, jujur, punya komitmen, dan yang
hidupnya diabdikan untuk bangsa dan negara ini.
Kita mengharapkan
akan adanya perubahan negeri ini.
Jangan
sampai membuat ratapan Ibu Pertiwi semakin menderita.
Saatnya
kita berubah. Saatnya paten menjadi milik kita bersama. Demi Indonesia yang
bersih, makmur, dan penuh dengan harapan baru.
Selasa, 01 Juli 2014
Krisis Keteladanan
Konflik yang disertai kekerasan marak terjadi di Indonesia. Kekerasan
tersebut kebanyakan dilakukan oleh anak muda. Menurut budayawan dan pengamat
sosial, Romo Mudji Sutrisno, hal tersebut akibat krisis keteladanan dan
terkikisnya budaya di masyarakat.
Romo Mudji: “Ya,
sebenarnya kan, kita tu kurang sekali ranah-ranah atau ruang-ruang di mana
mereka ini diorangkan. Jadi, keteladanan yang saling dicontoh bahwa hidup rukun
itu, lintas agama, saling berbeda itu kuat sekali, saling menghormati tu -
kosong sekarang. Yang kedua, makin banyak generasi muda yang penuh energik kuat
sekali, tapi coba sekolahan-sekolahan yang tidak punya ruang lapangan, tidak
punya tempat untuk seni dan segala macam, kebudayaan lah, itu kemudian mereka
larinya juga ke jalanan. Jadi, selain tidak adanya contoh dan guru-gurunya adalah
guru-guru kekerasan, dan visualisasi di TV itu kan apa aja didebatkan,
diserang, dan kekerasan kata-kata tajam sekali. Nah, itu setiap hari menjadi
makanan mereka. Bagaimana mereka akan menemukan itu, ruang dimana mereka bisa
dikatakan hidup rukun. Indonesia yang dulu diciptakan oleh pendiri bangsa yang
menyatu dan saling rukun ini mencetuskan bahwa hidup dalam perbedaan ini harus
dimulai lagi. Lalu, apakah ini soal budaya kekerasan yang merajalela? Bukan.
Budaya itu kan sebenarnya menghidupi. Setiap orang diberi ruangnya untuk
berkembang dan untuk menghormati harkatnya, bahkan setiap orang di Indonesia, entah sukunya berbeda, agamanya
berbeda, dia mempunyai harkat yang harus dihormati. Dan negara harus memperlakukan
dia dengan kesejahteraan dan keadilan sosial yang bagus untuk itu. Jadi dengan
kata lain, ketika kebudayaan itu, artinya, mengacau, artinya mereka itu nomor
satu adalah pertentangan itu adalah untuk ‘ini lho gue jagoan’ – itu akan
parah. Jadi dengan kata lain, sekarang ini kan panggungnya adalah ‘gue menang,
kekuatan fisik, lalu gue nomor satu’. Ya, artinya nomor satu dengan kekerasan
yang ditempuh itu sendiri.”
Reporter: “Krisis
keteladanan. Apakah memang saat ini sudah sedemikian parah sehingga kemudian
tidak ada orang-orang yang patut diteladani oleh generasi muda ini?”
Romo Mudji: “Yang saya
maksud krisis keteladanan adalah makin langkanya guru-guru kebudayaan. Dulu
kita kan menenun mengenai ‘kamu harus ingat saudaramu atau yang lain lewat Ibu
yang membagi roti – itu dibagi. Lewat guru yang betul-betulmenjalankan
contohnya. Jadi, tidak nyontek, lalu proses itu adalah nomor satu, tapi coba
sekarang semua jalan pintas, mau hasilnya tidak mau keringatnya. Jadi, kita tu
krisis keteladanan budaya, keteladanan nilai-nilai, dan yang terjadi adalah
anti kehidupan. Jadi budaya yang kita hidupi sekarang ini adalah budaya yang
anti kehidupan, jadi bukan budaya yang mengutamakan kehidupan, tapi dead culture .Dead culture itu kan budaya kematian, kekerasan, dan semua. Dan ini
dipacu terus oleh visualisasi yang istilahnya bad news, kabar buruk atau tayangan yang lebih sadis lagi itu nomor
satu. Nah, dalam kondisi seperti ini sekolahan-sekolahan mengenai penanaman
nilai, mengenai school humaniora, segala
macem akan kalah dalam tanda petik.”
Langganan:
Komentar (Atom)










