Konflik yang disertai kekerasan marak terjadi di Indonesia. Kekerasan
tersebut kebanyakan dilakukan oleh anak muda. Menurut budayawan dan pengamat
sosial, Romo Mudji Sutrisno, hal tersebut akibat krisis keteladanan dan
terkikisnya budaya di masyarakat.
Romo Mudji: “Ya,
sebenarnya kan, kita tu kurang sekali ranah-ranah atau ruang-ruang di mana
mereka ini diorangkan. Jadi, keteladanan yang saling dicontoh bahwa hidup rukun
itu, lintas agama, saling berbeda itu kuat sekali, saling menghormati tu -
kosong sekarang. Yang kedua, makin banyak generasi muda yang penuh energik kuat
sekali, tapi coba sekolahan-sekolahan yang tidak punya ruang lapangan, tidak
punya tempat untuk seni dan segala macam, kebudayaan lah, itu kemudian mereka
larinya juga ke jalanan. Jadi, selain tidak adanya contoh dan guru-gurunya adalah
guru-guru kekerasan, dan visualisasi di TV itu kan apa aja didebatkan,
diserang, dan kekerasan kata-kata tajam sekali. Nah, itu setiap hari menjadi
makanan mereka. Bagaimana mereka akan menemukan itu, ruang dimana mereka bisa
dikatakan hidup rukun. Indonesia yang dulu diciptakan oleh pendiri bangsa yang
menyatu dan saling rukun ini mencetuskan bahwa hidup dalam perbedaan ini harus
dimulai lagi. Lalu, apakah ini soal budaya kekerasan yang merajalela? Bukan.
Budaya itu kan sebenarnya menghidupi. Setiap orang diberi ruangnya untuk
berkembang dan untuk menghormati harkatnya, bahkan setiap orang di Indonesia, entah sukunya berbeda, agamanya
berbeda, dia mempunyai harkat yang harus dihormati. Dan negara harus memperlakukan
dia dengan kesejahteraan dan keadilan sosial yang bagus untuk itu. Jadi dengan
kata lain, ketika kebudayaan itu, artinya, mengacau, artinya mereka itu nomor
satu adalah pertentangan itu adalah untuk ‘ini lho gue jagoan’ – itu akan
parah. Jadi dengan kata lain, sekarang ini kan panggungnya adalah ‘gue menang,
kekuatan fisik, lalu gue nomor satu’. Ya, artinya nomor satu dengan kekerasan
yang ditempuh itu sendiri.”
Reporter: “Krisis
keteladanan. Apakah memang saat ini sudah sedemikian parah sehingga kemudian
tidak ada orang-orang yang patut diteladani oleh generasi muda ini?”
Romo Mudji: “Yang saya
maksud krisis keteladanan adalah makin langkanya guru-guru kebudayaan. Dulu
kita kan menenun mengenai ‘kamu harus ingat saudaramu atau yang lain lewat Ibu
yang membagi roti – itu dibagi. Lewat guru yang betul-betulmenjalankan
contohnya. Jadi, tidak nyontek, lalu proses itu adalah nomor satu, tapi coba
sekarang semua jalan pintas, mau hasilnya tidak mau keringatnya. Jadi, kita tu
krisis keteladanan budaya, keteladanan nilai-nilai, dan yang terjadi adalah
anti kehidupan. Jadi budaya yang kita hidupi sekarang ini adalah budaya yang
anti kehidupan, jadi bukan budaya yang mengutamakan kehidupan, tapi dead culture .Dead culture itu kan budaya kematian, kekerasan, dan semua. Dan ini
dipacu terus oleh visualisasi yang istilahnya bad news, kabar buruk atau tayangan yang lebih sadis lagi itu nomor
satu. Nah, dalam kondisi seperti ini sekolahan-sekolahan mengenai penanaman
nilai, mengenai school humaniora, segala
macem akan kalah dalam tanda petik.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar