Penjajahan
Ekonomi di Bali
Saudara-saudara, masih inget gak lagu ini? “Eee … Ooaaiioo … Kembalikan
Baliku padaku
…” Lagu ciptaan Guruh Soekarnoputra, yaa
kira-kira 20 tahun lalu lah. Jangan-jangan waktu nyiptain lagu itu Mas Guruh
menganggap karena
ni Bali udah gak murni lagi, komersialismenya
udah begitu gede, udah banyak pelancong yang petetang-peteteng.
Di balik gemerincing dolar dan pesatnya pariwisata di Bali, ternyata
menyisakan berbagai permasalahan. Salah satu orang Bali yang melihat masalah ini
adalah I Gede Ari Astina alias Jerinx, seorang musisi dan aktivis sosial.
Jrx:
“Emm … Kalau saya lihat di Bali ini, perkembangan pariwisatanya terlalu dipercepat.
Semua itu berjalan begitu cepat, instan, kontrol terhadap dampak-dampak jangka
panjangnya itu kurang, dan ditambah pula dengan mindset kebanyakan orang-orang Bali, mentalnya itu tidak di-design untuk permasalahan-permasalahan
yang muncul dengan pesatnya industri pariwisata ini, seperti itu secara garis
besar. Contoh yang paling gampang misalnya dari segi ekonomi. Jadi sekarang
aset-aset di Indonesia, di Bali khususnya, apalagi di Bali Selatan itu sudah
bisa dibilang persentase yang dimiliki asing lebih banyak dari pada persentase
yang dimiliki oleh orang lokal sendiri. Itu kan secara gak langsung seperti
penjajahan ekonomi. Jadi, uang yang dari luar itu masuk ke Bali, trus profit yang didapat dari usaha ini
keluar lagi. Jadi orang-orang disini ya cuman jadi penonton aja!”
Pariwisata yang harusnya
mengangkat kesejahteraan orang Bali, ternyata belum berdampak maksimal. Masih
banyak kesenjangan yang terjadi di masyarakat.
Jrx: “Masyarakat Bali itu
terlalu dibutakan dengan dunia pariwisata ini. Jadi, seolah-olah dengan adanya
pariwisata kita tu baek-baek saja. Jadi seolah-olah semuanya itu berjalan dengan
tenteram, nyaman. Sementara di daerah-daerah itu masih banyak banget
ketimpangan-ketimpangan yang tidak tersetuh. Kenapa bisa begitu? Ya karena saat
ini di Bali semuanya itu terpusat di Bali Selatan: Nusa Dua, Kuta, Cangguh,
Seminyak, itu semua daerah-daerah yang potensial banget dan semua
pemodal-pemodal besar ini meng-invest, membuka
usaha-usaha mereka di daerah sini dan pelosok-pelosok seperti Karangasem,
Singaraja, bahkan di Denpasar sendiri pun juga masih banyak kemiskinan itu
terjadi.”
Kemiskinan dan tingginya
angka putus sekolah masih menjadi masalah serius di provinsi ini. Ini juga yang
membuat sebuah komunitas anak muda Bali tergerak untuk menjembatani kesenjangan
ini. Atas kesadaran bersama, para pemuda Bali ini membuat gerakan yang mereka beri
nama Siu Ajak Liu.
Pemuda Bali: “Emm … kalau
Siu Ajak Liu dari namanya itu, Siu itu berarti seribu, itu pake bahasa Bali.
Kemudian Ajak Liu itu bersama banyak. Jadi awalnya adalah mengumpulkan uang
recehan seribu-seribu setiap orang, menyisihkan seribu-seribu, untuk dijadikan
beasiswa pendidikan bagi adik asuh yang membutuhkan.”
Pemuda Bali: “Emm …
awalnya dari banyak blogger tu sering mengadakan kegiatan berbagi, pelatihan,
donor darah, dan sebagainya. Tapi, intensitasnya berkurang karena banyak
temen-temen yang sibuk. Akhirnya setelah diskusi bagaimana kita melanjutkan
semangat berbagi itu untuk lebih berkelanjutan. Jadi, bikin gerakan namanya Siu
Ajak Liu, dan itu maksudnya adalah membentuk kelompok tadi terdiri tiga sampai
lima orang menyisihkan sedikit penghasilannya, kemudian sedikit waktunya -
sebulan sekali untuk mendampingi adik asuh.”
Setiap satu bulan sekali,
pemuda ini dan teman-temannya menyambangi Wayan, adik asuh mereka. Tak hanya
mamberi santunan dana, mereka juga aktif menjadi kakak asuh baginya.
Bagi Wayan, gerakan Siu
Ajak Liu ini sangat membantu meringankan beban orang tuanya – yang hanya
bekerja sebagai buruh tani.
Wayan: “Perasaannya ya,
lebih tenang, senang gitu, soalnya kan keuangannya dibantu kakak-kakaknya,
dikasih lebih, lebih lancar bayar uang sekolahnya.”
Setelah dua tahun berdiri,
ada lima kelompok Siu Ajak Liu yang aktif di Bali. Pemuda itu berharap ini
menjadi gerakan inspiratif yang mampu menjembatani masalah pendidikan di Bali.
Makin populer suatu
daerah, atau semaakiiin disukai suatu daerah, otomatis semakin banyak orang
berdatangan di daerah itu. Otomatis pula semakin banyak uang yang masuk kesitu.
Itulah yang terjadi dengan Bali. Eeuuuhh … apa ya istilahnya mah,
komersialisme! Saya mah harapannya semoga warga Bali, meskipun banyaknya duit dan
banyaknya orang yang datang, komersialisme begitu tinggi, semoga karakternya
tetap terjaga – karakter khas orang Bali, yang ngomong bahasa Inggris percaya
diri meskipun logatnya tetap logat Bali. Saluut saya mah ya!
Nah, alhamdulilah ya?
Masih disukai sama wisatawan luar negeri, Bali sekarang. Meskipun, yaa … ada
anggapan bule-bule itu datang ke Bali karena murah meriah. Dengan budget yang seadanya, mereka bisa
berfoya-foya atau bersenang-senang di Pulau Dewata. Tapi ngomong-ngomong soal budget, kalau saudara-saudara pengen
merasakan nuansa Bali tapi budget-nya
terbataaas banget, datang aja ke Taman Mini! Tuh, ehegheg … kayak di Bali kan?