Sabtu, 28 Juni 2014

Penjajahan Ekonomi di Bali



Penjajahan Ekonomi di Bali
Saudara-saudara, masih inget gak lagu ini? “Eee … Ooaaiioo … Kembalikan Baliku padakuLagu ciptaan Guruh Soekarnoputra, yaa kira-kira 20 tahun lalu lah. Jangan-jangan waktu nyiptain lagu itu Mas Guruh menganggap karena ni Bali udah gak murni lagi, komersialismenya udah begitu gede, udah banyak pelancong yang petetang-peteteng.
Di balik gemerincing dolar dan pesatnya pariwisata di Bali, ternyata menyisakan berbagai permasalahan. Salah satu orang Bali yang melihat masalah ini adalah I Gede Ari Astina alias Jerinx, seorang musisi dan aktivis sosial.
Jrx: “Emm … Kalau saya lihat di Bali ini, perkembangan pariwisatanya terlalu dipercepat. Semua itu berjalan begitu cepat, instan, kontrol terhadap dampak-dampak jangka panjangnya itu kurang, dan ditambah pula dengan mindset kebanyakan orang-orang Bali, mentalnya itu tidak di-design untuk permasalahan-permasalahan yang muncul dengan pesatnya industri pariwisata ini, seperti itu secara garis besar. Contoh yang paling gampang misalnya dari segi ekonomi. Jadi sekarang aset-aset di Indonesia, di Bali khususnya, apalagi di Bali Selatan itu sudah bisa dibilang persentase yang dimiliki asing lebih banyak dari pada persentase yang dimiliki oleh orang lokal sendiri. Itu kan secara gak langsung seperti penjajahan ekonomi. Jadi, uang yang dari luar itu masuk ke Bali, trus profit yang didapat dari usaha ini keluar lagi. Jadi orang-orang disini ya cuman jadi penonton aja!”
Pariwisata yang harusnya mengangkat kesejahteraan orang Bali, ternyata belum berdampak maksimal. Masih banyak kesenjangan yang terjadi di masyarakat.
Jrx: “Masyarakat Bali itu terlalu dibutakan dengan dunia pariwisata ini. Jadi, seolah-olah dengan adanya pariwisata kita tu baek-baek saja. Jadi seolah-olah semuanya itu berjalan dengan tenteram, nyaman. Sementara di daerah-daerah itu masih banyak banget ketimpangan-ketimpangan yang tidak tersetuh. Kenapa bisa begitu? Ya karena saat ini di Bali semuanya itu terpusat di Bali Selatan: Nusa Dua, Kuta, Cangguh, Seminyak, itu semua daerah-daerah yang potensial banget dan semua pemodal-pemodal besar ini meng-invest, membuka usaha-usaha mereka di daerah sini dan pelosok-pelosok seperti Karangasem, Singaraja, bahkan di Denpasar sendiri pun juga masih banyak kemiskinan itu terjadi.”
Kemiskinan dan tingginya angka putus sekolah masih menjadi masalah serius di provinsi ini. Ini juga yang membuat sebuah komunitas anak muda Bali tergerak untuk menjembatani kesenjangan ini. Atas kesadaran bersama, para pemuda Bali ini membuat gerakan yang mereka beri nama Siu Ajak Liu.
Pemuda Bali: “Emm … kalau Siu Ajak Liu dari namanya itu, Siu itu berarti seribu, itu pake bahasa Bali. Kemudian Ajak Liu itu bersama banyak. Jadi awalnya adalah mengumpulkan uang recehan seribu-seribu setiap orang, menyisihkan seribu-seribu, untuk dijadikan beasiswa pendidikan bagi adik asuh yang membutuhkan.”
Pemuda Bali: “Emm … awalnya dari banyak blogger tu sering mengadakan kegiatan berbagi, pelatihan, donor darah, dan sebagainya. Tapi, intensitasnya berkurang karena banyak temen-temen yang sibuk. Akhirnya setelah diskusi bagaimana kita melanjutkan semangat berbagi itu untuk lebih berkelanjutan. Jadi, bikin gerakan namanya Siu Ajak Liu, dan itu maksudnya adalah membentuk kelompok tadi terdiri tiga sampai lima orang menyisihkan sedikit penghasilannya, kemudian sedikit waktunya - sebulan sekali untuk mendampingi adik asuh.”
Setiap satu bulan sekali, pemuda ini dan teman-temannya menyambangi Wayan, adik asuh mereka. Tak hanya mamberi santunan dana, mereka juga aktif menjadi kakak asuh baginya.
Bagi Wayan, gerakan Siu Ajak Liu ini sangat membantu meringankan beban orang tuanya – yang hanya bekerja sebagai buruh tani.
Wayan: “Perasaannya ya, lebih tenang, senang gitu, soalnya kan keuangannya dibantu kakak-kakaknya, dikasih lebih, lebih lancar bayar uang sekolahnya.”
Setelah dua tahun berdiri, ada lima kelompok Siu Ajak Liu yang aktif di Bali. Pemuda itu berharap ini menjadi gerakan inspiratif yang mampu menjembatani masalah pendidikan di Bali.
Makin populer suatu daerah, atau semaakiiin disukai suatu daerah, otomatis semakin banyak orang berdatangan di daerah itu. Otomatis pula semakin banyak uang yang masuk kesitu. Itulah yang terjadi dengan Bali. Eeuuuhh … apa ya istilahnya mah, komersialisme! Saya mah harapannya semoga warga Bali, meskipun banyaknya duit dan banyaknya orang yang datang, komersialisme begitu tinggi, semoga karakternya tetap terjaga – karakter khas orang Bali, yang ngomong bahasa Inggris percaya diri meskipun logatnya tetap logat Bali. Saluut saya mah ya!
Nah, alhamdulilah ya? Masih disukai sama wisatawan luar negeri, Bali sekarang. Meskipun, yaa … ada anggapan bule-bule itu datang ke Bali karena murah meriah. Dengan budget yang seadanya, mereka bisa berfoya-foya atau bersenang-senang di Pulau Dewata. Tapi ngomong-ngomong soal budget, kalau saudara-saudara pengen merasakan nuansa Bali tapi budget-nya terbataaas banget, datang aja ke Taman Mini! Tuh, ehegheg …  kayak di Bali kan?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar