Kamis, 03 Juli 2014

Re-Indonesianisasi Bangsa



Re-Indonesianisasi Bangsa

Rakyat menangis,
Pemimpin Bangsa tertawa.
Ideologi Bangsa dikhianati,
Wilayah NKRI digugat.
Bangsa dinodai oleh dosa bangsa.
Alam dieksploitasi dan ditelantarkan,
Agama dipolitisasi dan negara diagamaisasi.

Kita butuh pemimpin yang bersih, punya karakter, punya rekam jejak yang jelas, dan sebagai tokoh anti korupsi. Kita ingin negeri ini ada perubahan.
Dan saatnya perubahan itu dimulai dengan pemimpin yang  bersih, jujur, punya komitmen, dan yang hidupnya diabdikan untuk bangsa dan negara ini.
Kita mengharapkan akan adanya perubahan negeri ini.
Jangan sampai membuat ratapan Ibu Pertiwi semakin menderita.
Saatnya kita berubah. Saatnya paten menjadi milik kita bersama. Demi Indonesia yang bersih, makmur, dan penuh dengan harapan baru.

Selasa, 01 Juli 2014

Krisis Keteladanan



Konflik yang disertai kekerasan marak terjadi di Indonesia. Kekerasan tersebut kebanyakan dilakukan oleh anak muda. Menurut budayawan dan pengamat sosial, Romo Mudji Sutrisno, hal tersebut akibat krisis keteladanan dan terkikisnya budaya di masyarakat.
Romo Mudji: “Ya, sebenarnya kan, kita tu kurang sekali ranah-ranah atau ruang-ruang di mana mereka ini diorangkan. Jadi, keteladanan yang saling dicontoh bahwa hidup rukun itu, lintas agama, saling berbeda itu kuat sekali, saling menghormati tu - kosong sekarang. Yang kedua, makin banyak generasi muda yang penuh energik kuat sekali, tapi coba sekolahan-sekolahan yang tidak punya ruang lapangan, tidak punya tempat untuk seni dan segala macam, kebudayaan lah, itu kemudian mereka larinya juga ke jalanan. Jadi, selain tidak adanya contoh dan guru-gurunya adalah guru-guru kekerasan, dan visualisasi di TV itu kan apa aja didebatkan, diserang, dan kekerasan kata-kata tajam sekali. Nah, itu setiap hari menjadi makanan mereka. Bagaimana mereka akan menemukan itu, ruang dimana mereka bisa dikatakan hidup rukun. Indonesia yang dulu diciptakan oleh pendiri bangsa yang menyatu dan saling rukun ini mencetuskan bahwa hidup dalam perbedaan ini harus dimulai lagi. Lalu, apakah ini soal budaya kekerasan yang merajalela? Bukan. Budaya itu kan sebenarnya menghidupi. Setiap orang diberi ruangnya untuk berkembang dan untuk menghormati harkatnya, bahkan setiap orang  di Indonesia, entah sukunya berbeda, agamanya berbeda, dia mempunyai harkat yang harus dihormati. Dan negara harus memperlakukan dia dengan kesejahteraan dan keadilan sosial yang bagus untuk itu. Jadi dengan kata lain, ketika kebudayaan itu, artinya, mengacau, artinya mereka itu nomor satu adalah pertentangan itu adalah untuk ‘ini lho gue jagoan’ – itu akan parah. Jadi dengan kata lain, sekarang ini kan panggungnya adalah ‘gue menang, kekuatan fisik, lalu gue nomor satu’. Ya, artinya nomor satu dengan kekerasan yang ditempuh itu sendiri.”
Reporter: “Krisis keteladanan. Apakah memang saat ini sudah sedemikian parah sehingga kemudian tidak ada orang-orang yang patut diteladani oleh generasi muda ini?”
Romo Mudji: “Yang saya maksud krisis keteladanan adalah makin langkanya guru-guru kebudayaan. Dulu kita kan menenun mengenai ‘kamu harus ingat saudaramu atau yang lain lewat Ibu yang membagi roti – itu dibagi. Lewat guru yang betul-betulmenjalankan contohnya. Jadi, tidak nyontek, lalu proses itu adalah nomor satu, tapi coba sekarang semua jalan pintas, mau hasilnya tidak mau keringatnya. Jadi, kita tu krisis keteladanan budaya, keteladanan nilai-nilai, dan yang terjadi adalah anti kehidupan. Jadi budaya yang kita hidupi sekarang ini adalah budaya yang anti kehidupan, jadi bukan budaya yang mengutamakan kehidupan, tapi dead culture .Dead culture itu kan budaya kematian, kekerasan, dan semua. Dan ini dipacu terus oleh visualisasi yang istilahnya bad news, kabar buruk atau tayangan yang lebih sadis lagi itu nomor satu. Nah, dalam kondisi seperti ini sekolahan-sekolahan mengenai penanaman nilai, mengenai school humaniora, segala macem akan kalah dalam tanda petik.”