Jumat, 19 Desember 2014

Hari Ibu 2014


Teruntuk Ibuku tercinta,
Kalimat-kalimat yang pantas aku ucapkan di Hari Ibu 22 Desember 2014 ini:
“Maaf aku sering tak sabar mengajarkan Ibu mengoperasikan laptop. Padahal, Ibu tak pernah lelah saat mengajariku berbicara atau membaca."
“Aku sedang menikmati hidupku saat ini. Namun kadang aku begitu sibuk, sampai lupa bahwa Ibu ingin dikabari sekali-sekali.”
“Aku ingat saat Ibu marah karena sesuatu hal. Pendapat kita akan selalu berbeda dalam beberapa hal, dan aku sedang belajar untuk menerimanya.”

Walau pun engkau tak berpendidikan tinggi dan tak pandai bicara dalam berbagai bahasa, namun ada satu yang sering aku lalaikan yaitu bahasa kasih sayang.

Terima kasih Ibu.

Kamis, 03 Juli 2014

Re-Indonesianisasi Bangsa



Re-Indonesianisasi Bangsa

Rakyat menangis,
Pemimpin Bangsa tertawa.
Ideologi Bangsa dikhianati,
Wilayah NKRI digugat.
Bangsa dinodai oleh dosa bangsa.
Alam dieksploitasi dan ditelantarkan,
Agama dipolitisasi dan negara diagamaisasi.

Kita butuh pemimpin yang bersih, punya karakter, punya rekam jejak yang jelas, dan sebagai tokoh anti korupsi. Kita ingin negeri ini ada perubahan.
Dan saatnya perubahan itu dimulai dengan pemimpin yang  bersih, jujur, punya komitmen, dan yang hidupnya diabdikan untuk bangsa dan negara ini.
Kita mengharapkan akan adanya perubahan negeri ini.
Jangan sampai membuat ratapan Ibu Pertiwi semakin menderita.
Saatnya kita berubah. Saatnya paten menjadi milik kita bersama. Demi Indonesia yang bersih, makmur, dan penuh dengan harapan baru.

Selasa, 01 Juli 2014

Krisis Keteladanan



Konflik yang disertai kekerasan marak terjadi di Indonesia. Kekerasan tersebut kebanyakan dilakukan oleh anak muda. Menurut budayawan dan pengamat sosial, Romo Mudji Sutrisno, hal tersebut akibat krisis keteladanan dan terkikisnya budaya di masyarakat.
Romo Mudji: “Ya, sebenarnya kan, kita tu kurang sekali ranah-ranah atau ruang-ruang di mana mereka ini diorangkan. Jadi, keteladanan yang saling dicontoh bahwa hidup rukun itu, lintas agama, saling berbeda itu kuat sekali, saling menghormati tu - kosong sekarang. Yang kedua, makin banyak generasi muda yang penuh energik kuat sekali, tapi coba sekolahan-sekolahan yang tidak punya ruang lapangan, tidak punya tempat untuk seni dan segala macam, kebudayaan lah, itu kemudian mereka larinya juga ke jalanan. Jadi, selain tidak adanya contoh dan guru-gurunya adalah guru-guru kekerasan, dan visualisasi di TV itu kan apa aja didebatkan, diserang, dan kekerasan kata-kata tajam sekali. Nah, itu setiap hari menjadi makanan mereka. Bagaimana mereka akan menemukan itu, ruang dimana mereka bisa dikatakan hidup rukun. Indonesia yang dulu diciptakan oleh pendiri bangsa yang menyatu dan saling rukun ini mencetuskan bahwa hidup dalam perbedaan ini harus dimulai lagi. Lalu, apakah ini soal budaya kekerasan yang merajalela? Bukan. Budaya itu kan sebenarnya menghidupi. Setiap orang diberi ruangnya untuk berkembang dan untuk menghormati harkatnya, bahkan setiap orang  di Indonesia, entah sukunya berbeda, agamanya berbeda, dia mempunyai harkat yang harus dihormati. Dan negara harus memperlakukan dia dengan kesejahteraan dan keadilan sosial yang bagus untuk itu. Jadi dengan kata lain, ketika kebudayaan itu, artinya, mengacau, artinya mereka itu nomor satu adalah pertentangan itu adalah untuk ‘ini lho gue jagoan’ – itu akan parah. Jadi dengan kata lain, sekarang ini kan panggungnya adalah ‘gue menang, kekuatan fisik, lalu gue nomor satu’. Ya, artinya nomor satu dengan kekerasan yang ditempuh itu sendiri.”
Reporter: “Krisis keteladanan. Apakah memang saat ini sudah sedemikian parah sehingga kemudian tidak ada orang-orang yang patut diteladani oleh generasi muda ini?”
Romo Mudji: “Yang saya maksud krisis keteladanan adalah makin langkanya guru-guru kebudayaan. Dulu kita kan menenun mengenai ‘kamu harus ingat saudaramu atau yang lain lewat Ibu yang membagi roti – itu dibagi. Lewat guru yang betul-betulmenjalankan contohnya. Jadi, tidak nyontek, lalu proses itu adalah nomor satu, tapi coba sekarang semua jalan pintas, mau hasilnya tidak mau keringatnya. Jadi, kita tu krisis keteladanan budaya, keteladanan nilai-nilai, dan yang terjadi adalah anti kehidupan. Jadi budaya yang kita hidupi sekarang ini adalah budaya yang anti kehidupan, jadi bukan budaya yang mengutamakan kehidupan, tapi dead culture .Dead culture itu kan budaya kematian, kekerasan, dan semua. Dan ini dipacu terus oleh visualisasi yang istilahnya bad news, kabar buruk atau tayangan yang lebih sadis lagi itu nomor satu. Nah, dalam kondisi seperti ini sekolahan-sekolahan mengenai penanaman nilai, mengenai school humaniora, segala macem akan kalah dalam tanda petik.”

Sabtu, 28 Juni 2014

Penjajahan Ekonomi di Bali



Penjajahan Ekonomi di Bali
Saudara-saudara, masih inget gak lagu ini? “Eee … Ooaaiioo … Kembalikan Baliku padakuLagu ciptaan Guruh Soekarnoputra, yaa kira-kira 20 tahun lalu lah. Jangan-jangan waktu nyiptain lagu itu Mas Guruh menganggap karena ni Bali udah gak murni lagi, komersialismenya udah begitu gede, udah banyak pelancong yang petetang-peteteng.
Di balik gemerincing dolar dan pesatnya pariwisata di Bali, ternyata menyisakan berbagai permasalahan. Salah satu orang Bali yang melihat masalah ini adalah I Gede Ari Astina alias Jerinx, seorang musisi dan aktivis sosial.
Jrx: “Emm … Kalau saya lihat di Bali ini, perkembangan pariwisatanya terlalu dipercepat. Semua itu berjalan begitu cepat, instan, kontrol terhadap dampak-dampak jangka panjangnya itu kurang, dan ditambah pula dengan mindset kebanyakan orang-orang Bali, mentalnya itu tidak di-design untuk permasalahan-permasalahan yang muncul dengan pesatnya industri pariwisata ini, seperti itu secara garis besar. Contoh yang paling gampang misalnya dari segi ekonomi. Jadi sekarang aset-aset di Indonesia, di Bali khususnya, apalagi di Bali Selatan itu sudah bisa dibilang persentase yang dimiliki asing lebih banyak dari pada persentase yang dimiliki oleh orang lokal sendiri. Itu kan secara gak langsung seperti penjajahan ekonomi. Jadi, uang yang dari luar itu masuk ke Bali, trus profit yang didapat dari usaha ini keluar lagi. Jadi orang-orang disini ya cuman jadi penonton aja!”
Pariwisata yang harusnya mengangkat kesejahteraan orang Bali, ternyata belum berdampak maksimal. Masih banyak kesenjangan yang terjadi di masyarakat.
Jrx: “Masyarakat Bali itu terlalu dibutakan dengan dunia pariwisata ini. Jadi, seolah-olah dengan adanya pariwisata kita tu baek-baek saja. Jadi seolah-olah semuanya itu berjalan dengan tenteram, nyaman. Sementara di daerah-daerah itu masih banyak banget ketimpangan-ketimpangan yang tidak tersetuh. Kenapa bisa begitu? Ya karena saat ini di Bali semuanya itu terpusat di Bali Selatan: Nusa Dua, Kuta, Cangguh, Seminyak, itu semua daerah-daerah yang potensial banget dan semua pemodal-pemodal besar ini meng-invest, membuka usaha-usaha mereka di daerah sini dan pelosok-pelosok seperti Karangasem, Singaraja, bahkan di Denpasar sendiri pun juga masih banyak kemiskinan itu terjadi.”
Kemiskinan dan tingginya angka putus sekolah masih menjadi masalah serius di provinsi ini. Ini juga yang membuat sebuah komunitas anak muda Bali tergerak untuk menjembatani kesenjangan ini. Atas kesadaran bersama, para pemuda Bali ini membuat gerakan yang mereka beri nama Siu Ajak Liu.
Pemuda Bali: “Emm … kalau Siu Ajak Liu dari namanya itu, Siu itu berarti seribu, itu pake bahasa Bali. Kemudian Ajak Liu itu bersama banyak. Jadi awalnya adalah mengumpulkan uang recehan seribu-seribu setiap orang, menyisihkan seribu-seribu, untuk dijadikan beasiswa pendidikan bagi adik asuh yang membutuhkan.”
Pemuda Bali: “Emm … awalnya dari banyak blogger tu sering mengadakan kegiatan berbagi, pelatihan, donor darah, dan sebagainya. Tapi, intensitasnya berkurang karena banyak temen-temen yang sibuk. Akhirnya setelah diskusi bagaimana kita melanjutkan semangat berbagi itu untuk lebih berkelanjutan. Jadi, bikin gerakan namanya Siu Ajak Liu, dan itu maksudnya adalah membentuk kelompok tadi terdiri tiga sampai lima orang menyisihkan sedikit penghasilannya, kemudian sedikit waktunya - sebulan sekali untuk mendampingi adik asuh.”
Setiap satu bulan sekali, pemuda ini dan teman-temannya menyambangi Wayan, adik asuh mereka. Tak hanya mamberi santunan dana, mereka juga aktif menjadi kakak asuh baginya.
Bagi Wayan, gerakan Siu Ajak Liu ini sangat membantu meringankan beban orang tuanya – yang hanya bekerja sebagai buruh tani.
Wayan: “Perasaannya ya, lebih tenang, senang gitu, soalnya kan keuangannya dibantu kakak-kakaknya, dikasih lebih, lebih lancar bayar uang sekolahnya.”
Setelah dua tahun berdiri, ada lima kelompok Siu Ajak Liu yang aktif di Bali. Pemuda itu berharap ini menjadi gerakan inspiratif yang mampu menjembatani masalah pendidikan di Bali.
Makin populer suatu daerah, atau semaakiiin disukai suatu daerah, otomatis semakin banyak orang berdatangan di daerah itu. Otomatis pula semakin banyak uang yang masuk kesitu. Itulah yang terjadi dengan Bali. Eeuuuhh … apa ya istilahnya mah, komersialisme! Saya mah harapannya semoga warga Bali, meskipun banyaknya duit dan banyaknya orang yang datang, komersialisme begitu tinggi, semoga karakternya tetap terjaga – karakter khas orang Bali, yang ngomong bahasa Inggris percaya diri meskipun logatnya tetap logat Bali. Saluut saya mah ya!
Nah, alhamdulilah ya? Masih disukai sama wisatawan luar negeri, Bali sekarang. Meskipun, yaa … ada anggapan bule-bule itu datang ke Bali karena murah meriah. Dengan budget yang seadanya, mereka bisa berfoya-foya atau bersenang-senang di Pulau Dewata. Tapi ngomong-ngomong soal budget, kalau saudara-saudara pengen merasakan nuansa Bali tapi budget-nya terbataaas banget, datang aja ke Taman Mini! Tuh, ehegheg …  kayak di Bali kan?



Kamis, 09 Januari 2014

PERAN RASUL AWAM MUDA KATOLIK DI TENGAH PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME



MAKALAH AGAMA KONTEKSTUAL KATOLIK
PERAN RASUL AWAM MUDA KATOLIK DI TENGAH
PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME



Disusun oleh:
Nama               : Casius Ajang Wikarsa
NIM                : 13/15567/EP-S.Agb
Kelas               : Agribisnis (B)

INSTITUT PERTANIAN STIPER (INSTIPER)
YOGYAKARTA
2013

BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang penuh warna. Banyak cinta dan rasa hormat tumbuh di bawah pelangi Bhinneka. Kita semua berharap agar bangsa ini tetap puspawarna selamanya. Dan keadilan juga potensi alam bangsa ini bisa dinikmati  oleh semua warga  Indonesia tak peduli suku, agama, ras, maupun status sosialnya. Keanekaragaman itulah yang menjadi kekayaan Indonesia.
Selama ini kita beranggapan bahwa dengan keberagaman tersebut kita bisa saling melengkapi untuk menuju cita-cita bangsa Indonesia ini di bawah naungan Pancasila. Namun pada praktiknya, pluralisme dan multikulturalisme justru menjadi hambatan kita beragama. Hal itu bisa terjadi karena adanya perbedaan konsep keagamaan.Yang menarik disini adalah munculnya sikap mengkotak-kotakkan agama tertentu. Maksudnya adalah menjadikan sebuah agama itu terbelenggu, dan hal itulah yang bisa menyebabkan perpecahan antar umat beragama. Dampak negatif lainnya yang timbul adalah sikap membeda-bedakan agama yang satu dengan yang lain. Padahal di dalam ajaran agama, nilai-nilai baik selalu diajarkan.
Pluralisme merupakan paham yang mentoleransi dan mengakui akan kebenaran tentang adanya keanekaragaman. Pluralisme berasal dari dua kata, yaitu plural yang berarti jamak/beragam, dan isme yang berarti paham. Jadi pluralisme dapat diartikan sebagai paham keberagaman. Keberagaman yang dimaksud antara lain meliputi sisi pemikiran, peradaban, kepercayaan, budaya dan juga agama. Sedangkan multikulturalisme berasal dari dua kata yaitu multi (banyak) dan kultural (budaya). Multikulturalisme merupakan keberagaman budaya. Multikulturalisme dapat menggambarkan tentang kondisi negara Indonesia yang memiliki kekayaan berupa suku, ras, budaya, dan agama.
 
BAB II
REALITAS DAN TANTANGAN SAAT INI

Pelanggaran Kebebasan Agama Bak Penyakit Menular

Jakarta - Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) menilai pelanggaran terhadap kebebasan dalam menjalankan keyakinan atau dalam beragama seperti penyakit menular. Pola pelanggaran kebebasan beragama di beberapa wilayah selalu sama.
"Contohnya kasus Gereja Kristen Indonesia Yasmin di Bogor, belum selesai kasus tersebut sudah muncul lagi di Bekasi yaitu Huria Kristen Batak Protestan Filadelfia," kata Koordinator Bidang Kebijakan Elsam, Wahyudi Djafar pada Ahad, 3 Juni 2012.
Menurut Wahyudi cara pelanggaran kebebasan beragama rata-rata sama yaitu mempermasalahkan izin dan juga dalih penolakan dari warga sekitar. "Bukan hanya di Jawa di Riau dan Jambi pun kami mencatat kasus serupa dengan cara yang sama terjadi," ucapnya.
Dia menilai persebaran pelannggaran seperti itu terus meluas. Jika pada tahun 2010-2011 konsentrasi pelanggaran masih di Jawa, khususnya bagian barat kini sudah menyebar ke daerahlain. 
            Hal ini menurut Wahyudi bisa terjadi karena pemerintah daerah ikut terlibat di dalam pelanggaran tersebut. "Pembiaran yang dilakukan pemerintah pusat juga menjadikan daerah lain bisa berbuat hal yang sama tanpa merasa takut," kata peneliti hukum dan hak asasi manusia Elsam tersebut. Elsam juga melihat elemen masyarakat yang kerap membawa atribut agama juga ikut memicu sengketa di daerah-daerah lain. Menurut Wahyudi, pemerintah lemah terhadap desakan elemen tersebut.[1]

BAB III
RESPON SEBAGAI SEORANG YANG BERIMAN
TERHADAP TANTANGAN ZAMAN MODERN

Perubahan prinsip atau pun pedoman hidup manusia menyebabkan berubahnya sikap hidup manusia, terlebih anak muda pada zaman sekarang. Hal itu bisa terjadi karena adanya globalisasi, yaitu suatu proses atau masa dimana segalanya mengalami penyeragaman yang mendunia, yang berdampak pada aktivitas atau kegiatan manusia menjadi serba cepat dan instan. Menyangkut pluralisme dan multikulturalisme, globalisasi bisa menjadi sangat berbahaya jika dibiarkan karena dapat berakibat pada lunturnya etika agama dan berkurangnya penerapan nilai-nilai Pancasila terutama kita sebagai warga Indonesia. Maka dengan masalah tersebut di atas, kita sebagai mahasiswa katolik diharapkan bisa menjadi rasul awam muda yang lebih mampu untuk bertindak tegas, menjadi kader-kader muda katolik yang militan dan bisa menyeleksi hal-hal positif dari dampak globalisasi di tengah pluralisme dan multikulturalisme yang terjadi di Indonesia saat ini.
Sebagai anak muda katolik saya prihatin dengan keadaan yang terjadi seperti sekarang ini. Saya melihat tidak adanya sinergi untuk saling membangun bangsa ini. Yang ada malah saling menguasai. Sebagai contoh adalah para koruptor disana. Para koruptor menginginkan dirinya bisa kaya secara cepat dengan cara yang tidak halal. Itu merupakan salah satu bukti dari dampak globalisasi. Menjadi pantas apabila hidup mereka tidak damai karena selalu dihantui rasa bersalah. Untuk menghadapi keadaan yang demikian di tengah aneka tantangan zaman ini tentunya dibutuhkan pribadi yang memiliki sikap yang tangguh. Sikap tangguh yang harus dimiliki terkait peran kita sebagai rasul awam muda agar bisa berpotensi untuk menjadi pemimpin pada masa yang akan datang yaitu kita dituntut untuk mempunyai sikap yang lebih atau nilai plus dalam diri kita daripada yang lain. Yang kedua kita harus ikut memikul salib kristus, artinya kita tidak boleh cepat putus asa, pantang menyerah, dan tetap memiliki hati sebagai hamba yang selalu taat dan setia kepada Allah. Yang ketiga kita harus tetap menjalani ajaran-ajaran Yesus dan menghargai hal-hal kecil karena itu mencerminkan pribadi yang bertanggung jawab.

BAB IV
REFLEKSI PRIBADI

Sebagai rasul awam, kita seharusnya mampu untuk menghadapi aneka tantangan pada zaman sekarang ini. Rasul awam yaitu setiap orang katolik yang telah menerima sakramen babtis tetapi tidak ditahbiskan. Setiap tindakan/aksi para rasul awam seharusnya bisa menghadirkan kerajaan Allah di dalam tahta dunia. Rasul awam harus mengetahui dan memahami perannya agar tidak terjerumus atau pun mengikuti arus global tanpa memikirkan dampak yang akan ditanggung. Akan lebih bermanfaat lagi jika kita mampu melalukan aksi konkrit untuk menyelamatkan keadaan lingkungan sekitar yang sudah terlanjur mengglobal.
Saya melihat diri saya sedikit demi sedikit secara berkelanjutan telah mengimplementasikan apa yang sudah diajarkan. Disini saya mempunyai visi yaitu menjadi anak muda katolik yang berani menembus batas. Menembus batas yang dimaksud adalah berani pergi ke wilayah atau zona yang tidak nyaman. Contoh kecil yaitu saat sebagian besar teman-teman saya nyaman berada di kost (tiduran dan bersantai), saya memilih untuk sibuk di komunitas dengan mengikuti berbagai kegiatan di organisasi. Ini adalah salah satu bentuk konkrit yang dapat dilakukan karena dapat menunjukkan bahwa dengan berada di zona tidak nyaman, kita menjadi berani berjuang, berani berjerih payah, berani lelah, dan berani gagal untuk kebaikan dan sebagai persembahan bagi Tuhan. Hal ini saya lakukan karena kita semua percaya bahwa Tuhan telah menjamin dan merajai hidup kita. Dan menurut saya keberanian yang sesungguhnya merupakan bukti dari iman.

BAB V
      KESIMPULAN

Dari makalah yang telah saya buat, dapat disimpulkan bahwa peran rasul awam muda katolik yang mau peduli dengan keadaan lingkungan dan mampu bertindak dengan aksi konkrit pada zaman sekarang ini sangat dibutuhkan. Disamping untuk mencetak pioner-pioner pemimpin yang bertanggung jawab pada masa yang akan datang, juga diharapkan mampu untuk menjadi pengontrol budaya masyarakat yang semakin tidak terkendali di tengah pluralisme dan multikulturalisme. Yang jelas kita semua umat yang percaya kepada Allah harus bisa meneladani hidup Yesus sendiri dan kita juga harus mampu menjadi rasul yang ke-13 dengan menerapkan konsep hidup rohani yang baik, tanggung jawab di masyarakat baik, dan tentunya mengenai peran kita sebagai rasul awam yang tidak boleh dilupakan. Saya berharap agar kita semua khususnya umat katolik bisa saling bekerja sama membangun hubungan sosial yang baik menurut peran kita masing-masing karena kita diutus untuk menjadi pewarta sabda Allah sekaligus memberikan teladan sikap yang baik dan peduli terhadap sesama.



[1] TEMPO.CO MINGGU, 03 JUNI 2012 | 19:57 WIB