Kamis, 09 Januari 2014

PERAN RASUL AWAM MUDA KATOLIK DI TENGAH PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME



MAKALAH AGAMA KONTEKSTUAL KATOLIK
PERAN RASUL AWAM MUDA KATOLIK DI TENGAH
PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME



Disusun oleh:
Nama               : Casius Ajang Wikarsa
NIM                : 13/15567/EP-S.Agb
Kelas               : Agribisnis (B)

INSTITUT PERTANIAN STIPER (INSTIPER)
YOGYAKARTA
2013

BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang penuh warna. Banyak cinta dan rasa hormat tumbuh di bawah pelangi Bhinneka. Kita semua berharap agar bangsa ini tetap puspawarna selamanya. Dan keadilan juga potensi alam bangsa ini bisa dinikmati  oleh semua warga  Indonesia tak peduli suku, agama, ras, maupun status sosialnya. Keanekaragaman itulah yang menjadi kekayaan Indonesia.
Selama ini kita beranggapan bahwa dengan keberagaman tersebut kita bisa saling melengkapi untuk menuju cita-cita bangsa Indonesia ini di bawah naungan Pancasila. Namun pada praktiknya, pluralisme dan multikulturalisme justru menjadi hambatan kita beragama. Hal itu bisa terjadi karena adanya perbedaan konsep keagamaan.Yang menarik disini adalah munculnya sikap mengkotak-kotakkan agama tertentu. Maksudnya adalah menjadikan sebuah agama itu terbelenggu, dan hal itulah yang bisa menyebabkan perpecahan antar umat beragama. Dampak negatif lainnya yang timbul adalah sikap membeda-bedakan agama yang satu dengan yang lain. Padahal di dalam ajaran agama, nilai-nilai baik selalu diajarkan.
Pluralisme merupakan paham yang mentoleransi dan mengakui akan kebenaran tentang adanya keanekaragaman. Pluralisme berasal dari dua kata, yaitu plural yang berarti jamak/beragam, dan isme yang berarti paham. Jadi pluralisme dapat diartikan sebagai paham keberagaman. Keberagaman yang dimaksud antara lain meliputi sisi pemikiran, peradaban, kepercayaan, budaya dan juga agama. Sedangkan multikulturalisme berasal dari dua kata yaitu multi (banyak) dan kultural (budaya). Multikulturalisme merupakan keberagaman budaya. Multikulturalisme dapat menggambarkan tentang kondisi negara Indonesia yang memiliki kekayaan berupa suku, ras, budaya, dan agama.
 
BAB II
REALITAS DAN TANTANGAN SAAT INI

Pelanggaran Kebebasan Agama Bak Penyakit Menular

Jakarta - Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) menilai pelanggaran terhadap kebebasan dalam menjalankan keyakinan atau dalam beragama seperti penyakit menular. Pola pelanggaran kebebasan beragama di beberapa wilayah selalu sama.
"Contohnya kasus Gereja Kristen Indonesia Yasmin di Bogor, belum selesai kasus tersebut sudah muncul lagi di Bekasi yaitu Huria Kristen Batak Protestan Filadelfia," kata Koordinator Bidang Kebijakan Elsam, Wahyudi Djafar pada Ahad, 3 Juni 2012.
Menurut Wahyudi cara pelanggaran kebebasan beragama rata-rata sama yaitu mempermasalahkan izin dan juga dalih penolakan dari warga sekitar. "Bukan hanya di Jawa di Riau dan Jambi pun kami mencatat kasus serupa dengan cara yang sama terjadi," ucapnya.
Dia menilai persebaran pelannggaran seperti itu terus meluas. Jika pada tahun 2010-2011 konsentrasi pelanggaran masih di Jawa, khususnya bagian barat kini sudah menyebar ke daerahlain. 
            Hal ini menurut Wahyudi bisa terjadi karena pemerintah daerah ikut terlibat di dalam pelanggaran tersebut. "Pembiaran yang dilakukan pemerintah pusat juga menjadikan daerah lain bisa berbuat hal yang sama tanpa merasa takut," kata peneliti hukum dan hak asasi manusia Elsam tersebut. Elsam juga melihat elemen masyarakat yang kerap membawa atribut agama juga ikut memicu sengketa di daerah-daerah lain. Menurut Wahyudi, pemerintah lemah terhadap desakan elemen tersebut.[1]

BAB III
RESPON SEBAGAI SEORANG YANG BERIMAN
TERHADAP TANTANGAN ZAMAN MODERN

Perubahan prinsip atau pun pedoman hidup manusia menyebabkan berubahnya sikap hidup manusia, terlebih anak muda pada zaman sekarang. Hal itu bisa terjadi karena adanya globalisasi, yaitu suatu proses atau masa dimana segalanya mengalami penyeragaman yang mendunia, yang berdampak pada aktivitas atau kegiatan manusia menjadi serba cepat dan instan. Menyangkut pluralisme dan multikulturalisme, globalisasi bisa menjadi sangat berbahaya jika dibiarkan karena dapat berakibat pada lunturnya etika agama dan berkurangnya penerapan nilai-nilai Pancasila terutama kita sebagai warga Indonesia. Maka dengan masalah tersebut di atas, kita sebagai mahasiswa katolik diharapkan bisa menjadi rasul awam muda yang lebih mampu untuk bertindak tegas, menjadi kader-kader muda katolik yang militan dan bisa menyeleksi hal-hal positif dari dampak globalisasi di tengah pluralisme dan multikulturalisme yang terjadi di Indonesia saat ini.
Sebagai anak muda katolik saya prihatin dengan keadaan yang terjadi seperti sekarang ini. Saya melihat tidak adanya sinergi untuk saling membangun bangsa ini. Yang ada malah saling menguasai. Sebagai contoh adalah para koruptor disana. Para koruptor menginginkan dirinya bisa kaya secara cepat dengan cara yang tidak halal. Itu merupakan salah satu bukti dari dampak globalisasi. Menjadi pantas apabila hidup mereka tidak damai karena selalu dihantui rasa bersalah. Untuk menghadapi keadaan yang demikian di tengah aneka tantangan zaman ini tentunya dibutuhkan pribadi yang memiliki sikap yang tangguh. Sikap tangguh yang harus dimiliki terkait peran kita sebagai rasul awam muda agar bisa berpotensi untuk menjadi pemimpin pada masa yang akan datang yaitu kita dituntut untuk mempunyai sikap yang lebih atau nilai plus dalam diri kita daripada yang lain. Yang kedua kita harus ikut memikul salib kristus, artinya kita tidak boleh cepat putus asa, pantang menyerah, dan tetap memiliki hati sebagai hamba yang selalu taat dan setia kepada Allah. Yang ketiga kita harus tetap menjalani ajaran-ajaran Yesus dan menghargai hal-hal kecil karena itu mencerminkan pribadi yang bertanggung jawab.

BAB IV
REFLEKSI PRIBADI

Sebagai rasul awam, kita seharusnya mampu untuk menghadapi aneka tantangan pada zaman sekarang ini. Rasul awam yaitu setiap orang katolik yang telah menerima sakramen babtis tetapi tidak ditahbiskan. Setiap tindakan/aksi para rasul awam seharusnya bisa menghadirkan kerajaan Allah di dalam tahta dunia. Rasul awam harus mengetahui dan memahami perannya agar tidak terjerumus atau pun mengikuti arus global tanpa memikirkan dampak yang akan ditanggung. Akan lebih bermanfaat lagi jika kita mampu melalukan aksi konkrit untuk menyelamatkan keadaan lingkungan sekitar yang sudah terlanjur mengglobal.
Saya melihat diri saya sedikit demi sedikit secara berkelanjutan telah mengimplementasikan apa yang sudah diajarkan. Disini saya mempunyai visi yaitu menjadi anak muda katolik yang berani menembus batas. Menembus batas yang dimaksud adalah berani pergi ke wilayah atau zona yang tidak nyaman. Contoh kecil yaitu saat sebagian besar teman-teman saya nyaman berada di kost (tiduran dan bersantai), saya memilih untuk sibuk di komunitas dengan mengikuti berbagai kegiatan di organisasi. Ini adalah salah satu bentuk konkrit yang dapat dilakukan karena dapat menunjukkan bahwa dengan berada di zona tidak nyaman, kita menjadi berani berjuang, berani berjerih payah, berani lelah, dan berani gagal untuk kebaikan dan sebagai persembahan bagi Tuhan. Hal ini saya lakukan karena kita semua percaya bahwa Tuhan telah menjamin dan merajai hidup kita. Dan menurut saya keberanian yang sesungguhnya merupakan bukti dari iman.

BAB V
      KESIMPULAN

Dari makalah yang telah saya buat, dapat disimpulkan bahwa peran rasul awam muda katolik yang mau peduli dengan keadaan lingkungan dan mampu bertindak dengan aksi konkrit pada zaman sekarang ini sangat dibutuhkan. Disamping untuk mencetak pioner-pioner pemimpin yang bertanggung jawab pada masa yang akan datang, juga diharapkan mampu untuk menjadi pengontrol budaya masyarakat yang semakin tidak terkendali di tengah pluralisme dan multikulturalisme. Yang jelas kita semua umat yang percaya kepada Allah harus bisa meneladani hidup Yesus sendiri dan kita juga harus mampu menjadi rasul yang ke-13 dengan menerapkan konsep hidup rohani yang baik, tanggung jawab di masyarakat baik, dan tentunya mengenai peran kita sebagai rasul awam yang tidak boleh dilupakan. Saya berharap agar kita semua khususnya umat katolik bisa saling bekerja sama membangun hubungan sosial yang baik menurut peran kita masing-masing karena kita diutus untuk menjadi pewarta sabda Allah sekaligus memberikan teladan sikap yang baik dan peduli terhadap sesama.



[1] TEMPO.CO MINGGU, 03 JUNI 2012 | 19:57 WIB

1 komentar: