Kamis, 09 Januari 2014

PERAN RASUL AWAM MUDA KATOLIK DI TENGAH PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME



MAKALAH AGAMA KONTEKSTUAL KATOLIK
PERAN RASUL AWAM MUDA KATOLIK DI TENGAH
PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME



Disusun oleh:
Nama               : Casius Ajang Wikarsa
NIM                : 13/15567/EP-S.Agb
Kelas               : Agribisnis (B)

INSTITUT PERTANIAN STIPER (INSTIPER)
YOGYAKARTA
2013

BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang penuh warna. Banyak cinta dan rasa hormat tumbuh di bawah pelangi Bhinneka. Kita semua berharap agar bangsa ini tetap puspawarna selamanya. Dan keadilan juga potensi alam bangsa ini bisa dinikmati  oleh semua warga  Indonesia tak peduli suku, agama, ras, maupun status sosialnya. Keanekaragaman itulah yang menjadi kekayaan Indonesia.
Selama ini kita beranggapan bahwa dengan keberagaman tersebut kita bisa saling melengkapi untuk menuju cita-cita bangsa Indonesia ini di bawah naungan Pancasila. Namun pada praktiknya, pluralisme dan multikulturalisme justru menjadi hambatan kita beragama. Hal itu bisa terjadi karena adanya perbedaan konsep keagamaan.Yang menarik disini adalah munculnya sikap mengkotak-kotakkan agama tertentu. Maksudnya adalah menjadikan sebuah agama itu terbelenggu, dan hal itulah yang bisa menyebabkan perpecahan antar umat beragama. Dampak negatif lainnya yang timbul adalah sikap membeda-bedakan agama yang satu dengan yang lain. Padahal di dalam ajaran agama, nilai-nilai baik selalu diajarkan.
Pluralisme merupakan paham yang mentoleransi dan mengakui akan kebenaran tentang adanya keanekaragaman. Pluralisme berasal dari dua kata, yaitu plural yang berarti jamak/beragam, dan isme yang berarti paham. Jadi pluralisme dapat diartikan sebagai paham keberagaman. Keberagaman yang dimaksud antara lain meliputi sisi pemikiran, peradaban, kepercayaan, budaya dan juga agama. Sedangkan multikulturalisme berasal dari dua kata yaitu multi (banyak) dan kultural (budaya). Multikulturalisme merupakan keberagaman budaya. Multikulturalisme dapat menggambarkan tentang kondisi negara Indonesia yang memiliki kekayaan berupa suku, ras, budaya, dan agama.
 
BAB II
REALITAS DAN TANTANGAN SAAT INI

Pelanggaran Kebebasan Agama Bak Penyakit Menular

Jakarta - Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) menilai pelanggaran terhadap kebebasan dalam menjalankan keyakinan atau dalam beragama seperti penyakit menular. Pola pelanggaran kebebasan beragama di beberapa wilayah selalu sama.
"Contohnya kasus Gereja Kristen Indonesia Yasmin di Bogor, belum selesai kasus tersebut sudah muncul lagi di Bekasi yaitu Huria Kristen Batak Protestan Filadelfia," kata Koordinator Bidang Kebijakan Elsam, Wahyudi Djafar pada Ahad, 3 Juni 2012.
Menurut Wahyudi cara pelanggaran kebebasan beragama rata-rata sama yaitu mempermasalahkan izin dan juga dalih penolakan dari warga sekitar. "Bukan hanya di Jawa di Riau dan Jambi pun kami mencatat kasus serupa dengan cara yang sama terjadi," ucapnya.
Dia menilai persebaran pelannggaran seperti itu terus meluas. Jika pada tahun 2010-2011 konsentrasi pelanggaran masih di Jawa, khususnya bagian barat kini sudah menyebar ke daerahlain. 
            Hal ini menurut Wahyudi bisa terjadi karena pemerintah daerah ikut terlibat di dalam pelanggaran tersebut. "Pembiaran yang dilakukan pemerintah pusat juga menjadikan daerah lain bisa berbuat hal yang sama tanpa merasa takut," kata peneliti hukum dan hak asasi manusia Elsam tersebut. Elsam juga melihat elemen masyarakat yang kerap membawa atribut agama juga ikut memicu sengketa di daerah-daerah lain. Menurut Wahyudi, pemerintah lemah terhadap desakan elemen tersebut.[1]

BAB III
RESPON SEBAGAI SEORANG YANG BERIMAN
TERHADAP TANTANGAN ZAMAN MODERN

Perubahan prinsip atau pun pedoman hidup manusia menyebabkan berubahnya sikap hidup manusia, terlebih anak muda pada zaman sekarang. Hal itu bisa terjadi karena adanya globalisasi, yaitu suatu proses atau masa dimana segalanya mengalami penyeragaman yang mendunia, yang berdampak pada aktivitas atau kegiatan manusia menjadi serba cepat dan instan. Menyangkut pluralisme dan multikulturalisme, globalisasi bisa menjadi sangat berbahaya jika dibiarkan karena dapat berakibat pada lunturnya etika agama dan berkurangnya penerapan nilai-nilai Pancasila terutama kita sebagai warga Indonesia. Maka dengan masalah tersebut di atas, kita sebagai mahasiswa katolik diharapkan bisa menjadi rasul awam muda yang lebih mampu untuk bertindak tegas, menjadi kader-kader muda katolik yang militan dan bisa menyeleksi hal-hal positif dari dampak globalisasi di tengah pluralisme dan multikulturalisme yang terjadi di Indonesia saat ini.
Sebagai anak muda katolik saya prihatin dengan keadaan yang terjadi seperti sekarang ini. Saya melihat tidak adanya sinergi untuk saling membangun bangsa ini. Yang ada malah saling menguasai. Sebagai contoh adalah para koruptor disana. Para koruptor menginginkan dirinya bisa kaya secara cepat dengan cara yang tidak halal. Itu merupakan salah satu bukti dari dampak globalisasi. Menjadi pantas apabila hidup mereka tidak damai karena selalu dihantui rasa bersalah. Untuk menghadapi keadaan yang demikian di tengah aneka tantangan zaman ini tentunya dibutuhkan pribadi yang memiliki sikap yang tangguh. Sikap tangguh yang harus dimiliki terkait peran kita sebagai rasul awam muda agar bisa berpotensi untuk menjadi pemimpin pada masa yang akan datang yaitu kita dituntut untuk mempunyai sikap yang lebih atau nilai plus dalam diri kita daripada yang lain. Yang kedua kita harus ikut memikul salib kristus, artinya kita tidak boleh cepat putus asa, pantang menyerah, dan tetap memiliki hati sebagai hamba yang selalu taat dan setia kepada Allah. Yang ketiga kita harus tetap menjalani ajaran-ajaran Yesus dan menghargai hal-hal kecil karena itu mencerminkan pribadi yang bertanggung jawab.

BAB IV
REFLEKSI PRIBADI

Sebagai rasul awam, kita seharusnya mampu untuk menghadapi aneka tantangan pada zaman sekarang ini. Rasul awam yaitu setiap orang katolik yang telah menerima sakramen babtis tetapi tidak ditahbiskan. Setiap tindakan/aksi para rasul awam seharusnya bisa menghadirkan kerajaan Allah di dalam tahta dunia. Rasul awam harus mengetahui dan memahami perannya agar tidak terjerumus atau pun mengikuti arus global tanpa memikirkan dampak yang akan ditanggung. Akan lebih bermanfaat lagi jika kita mampu melalukan aksi konkrit untuk menyelamatkan keadaan lingkungan sekitar yang sudah terlanjur mengglobal.
Saya melihat diri saya sedikit demi sedikit secara berkelanjutan telah mengimplementasikan apa yang sudah diajarkan. Disini saya mempunyai visi yaitu menjadi anak muda katolik yang berani menembus batas. Menembus batas yang dimaksud adalah berani pergi ke wilayah atau zona yang tidak nyaman. Contoh kecil yaitu saat sebagian besar teman-teman saya nyaman berada di kost (tiduran dan bersantai), saya memilih untuk sibuk di komunitas dengan mengikuti berbagai kegiatan di organisasi. Ini adalah salah satu bentuk konkrit yang dapat dilakukan karena dapat menunjukkan bahwa dengan berada di zona tidak nyaman, kita menjadi berani berjuang, berani berjerih payah, berani lelah, dan berani gagal untuk kebaikan dan sebagai persembahan bagi Tuhan. Hal ini saya lakukan karena kita semua percaya bahwa Tuhan telah menjamin dan merajai hidup kita. Dan menurut saya keberanian yang sesungguhnya merupakan bukti dari iman.

BAB V
      KESIMPULAN

Dari makalah yang telah saya buat, dapat disimpulkan bahwa peran rasul awam muda katolik yang mau peduli dengan keadaan lingkungan dan mampu bertindak dengan aksi konkrit pada zaman sekarang ini sangat dibutuhkan. Disamping untuk mencetak pioner-pioner pemimpin yang bertanggung jawab pada masa yang akan datang, juga diharapkan mampu untuk menjadi pengontrol budaya masyarakat yang semakin tidak terkendali di tengah pluralisme dan multikulturalisme. Yang jelas kita semua umat yang percaya kepada Allah harus bisa meneladani hidup Yesus sendiri dan kita juga harus mampu menjadi rasul yang ke-13 dengan menerapkan konsep hidup rohani yang baik, tanggung jawab di masyarakat baik, dan tentunya mengenai peran kita sebagai rasul awam yang tidak boleh dilupakan. Saya berharap agar kita semua khususnya umat katolik bisa saling bekerja sama membangun hubungan sosial yang baik menurut peran kita masing-masing karena kita diutus untuk menjadi pewarta sabda Allah sekaligus memberikan teladan sikap yang baik dan peduli terhadap sesama.



[1] TEMPO.CO MINGGU, 03 JUNI 2012 | 19:57 WIB

Serunya OKKABUN INSTIPER 2013





Hari itu tanggal 23 Agustus 2013. Aku bergegas pergi ke kampus untuk melihat info tentang Okkabun (Orientasi Kampus dan Kenal Kebun). Aku masih sendiri di tempat parkir kampus dan berharap Wahyu, Chasap, dan Rizki – teman SMA ku segera datang ke kampus. Sambil berjalan, aaku bertemu dengan seorang Camaba (Calon Mahasiswa Baru) yang berasal dari Wonosobo, Jawa Tengah. Namanya Joko. Aku mencoba menyapa dia dan membuat sedikit pembicaraan ringan. Tak lama kemudian datanglah ketiga temanku dan langsung membaca di papan pengumuman bahwa aku berkesempatan untuk bergabung di  Regu 12 dari total seluruhnya 34 regu. Untuk satu regu kurang lebih terdiri dari 25 orang.
Kemudian aku mencoba mencari informasi Okkabun yang belum aku ketahui selama ini. Di papan pengumuman tertulis bahwa kegiatan akan dilaksanakan mulai tanggal 24 Agustus 2013. “Hah, apa nggak salah tuh?” gumamku. Sedangkan aku baru mengetahuinya sekarang. Di sana tertulis kewajiban-kewajiban peserta Okkabun  dan perlengkapan yang harus dikenakan. Terdengar suara Pengumuman bahwa seluruh Camaba diminta untuk berkumpul di lapangan sesuai dengan regunya masing-masing. Datanglah yang namanya Menwa (Resimen Mahasiswa) Satuan 13 Instiper Yogyakarta. Mereka bertugas menjadi eksekutor jalannya Okkabun. Mereka adalah pribadi yang tegas, disiplin, dan penuh tanggung jawab.
Setelah itu kami diminta berkumpul mengelompok mencari tempat yang nyaman. Dengan di damping Mas Anri Kurniawan Co-Fas (Coordinator Fasilitator, istilahnya pembantu Fasilitator) regu 12, disitulah tempat kami berkenalan. Kami diminta – satu per satu untuk memperkenalkan diri. Di dalam suatu regu pastilah harus ada satu perwakilan yang bertanggung jawab penuh atas regu tersebut. “Siapa diantara kalian yang ingin menjadi ketua?” Tanya Mas Anri. Seketika suasana hening sejenak tak ada satu pun Camaba yang bersuara. Akhirnya dengan hati yang mantap, aku memberanikan diri untuk menjadi ketua regu 12. Horeee …
Setelah itu kami diminta untuk berkumpul di depan Ruang Auditorium. Dan kita bernyanyi bersama-sama disana. Mars Instiper dan Hymne Instiper adalah lagu yang kami pelajari. Begini lirik lagunya:
Mars Instiper
Hai Putra Putri Instiper Yogyakarta bangun serentak
Belajar berjuang menuju cita-cita suci dan mulia
Sarjana Paripurna idaman kita Pengamal Pancasila
Bersatu terpadu kerja kita bersama
Di bawah lindungan Tuhan kita Maha kuasa.

 Lagunya bagus, hanya saja orang-orangnya yang perlu lebih beradaptasi dengan nadanya. Wajarlah namanya baru pertama kali menyanyikan lagu baru ya fals lah. Tapi nggak masalah, seiring berjalannya waktu kami pasti bisa menyanykannya dengan merdu (bukan merusak dunia ya … hehe). Hari pertama Okkabun telah terlewati.
Hari kedua dan ketiga, tepatnya tanggal 25-26 Agustus 2013, kami berada di halaman Maguwoharjo International Stadium (MIS). Dengan mengenakan kaos putih lengan panjang, celana hitam panjang bukan jeans, dan memakai sepatu kets serta rambut harus pendek dan rapi, kami mendapatkan pelajaran kedisiplinan dan ketahanan fisik oleh anggota TNI AU Paskhas.  Tak lupa papan nama berbentuk persegi lima dengan warna sesuai fakultas dan tas gandum pun wajib kami kenakan. Kami dibimbing dengan materi PBB (Peraturan Baris-Berbaris). Dari 860 Camaba Instiper dibagi menjadi beberapa Kompi. Tak hanya itu, pada tanggal 25 Agustus kami  berkesempatan untuk mengikuti seminar ceramah kebangsaan oleh Prof. Dr. H. Abdul Munir Mulkhan, SU. Beliau adalah seorang penulis terkenal yang telah menulis sebanyak ˃ 45 buku.
Tanggal 27 Agustus 2013, kami masih mengenakan kaos putih lengan panjang dan segala atributnya (lengkap). Kami mengikuti segala acara pada hari itu. Yaitu pengenalan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dan Kelembagaan yang ada di Kampus Hijau Instiper. Ada KSR (Korps Suka Rela), MENWA (Resimen Mahasiswa), Pecinta Lingkungan KMSL – MIC (Kelompok Mahasiswa Studi Lingkungan – Mangrove Instiper Club, Kesenian KHD (Komunitas Hijau Daun), Olah Raga, Pecinta Alam, Metafisika, UKM Kerohanian, dan masih banyak lagi. Adapun Kelembagaan khususnya di Fakultas Pertanian Instiper Yogyakarta, antara lain: BEM-F (Badan Eksekutif Mahasiswa Faperta), HIMSEP (Himpunan Mahasiswa Sosial – Ekonomi Pertanian), IMADATA (Ikatan Mahasiawa Budidaya Pertanian), dan lain sebagainya.
Sungguh mengasyikan mengikuti Okkabun Instiper 2013, dibikin have fun aja!

Okkabun: Orientasi Kampus dan Kenal Kebun
INSTIPER: Institut Pertanian Stiper
Yogyakarta

Rabu, 08 Januari 2014

Surat Cinta untuk Ibu



Surat Cinta untuk Ibu
Oleh: Casius A. Wikarsa




        Teruntuk Ibuku tercinta,
        Ibu, delapan belas tahun lamanya engkau mencurahkan kasih sayang sepenuhnya padaku -  yang seringkali menyakiti hatimu, membantah perintahmu, dan mengacuhkanmu ini. Ibu, sekarang aku telah beranjak dewasa. Aku menjadi semakin mengerti akan jerih payah seorang Ibu terhadap anak-anaknya. Aku menjadi semakin sadar akan tanggung jawabku sebagai anak sulung, yang diharapkan mampu memberikan contoh sikap yang baik kepada dua orang adikku. Dengan kasih sayangmu yang begitu tulus, engkau teramat sabar mengajari, melatih, dan membimbing setiap langkahku.
        Sejak kecil kau rawat aku, kau tutupi kekesalanmu dengan senyuman yang anggun. Aku yakin meskipun engkau bekerja keras membantu Ayah untuk mencari nafkah, tetapi hatimu  tercabik-cabik melihat anak bungsumu yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak itu di rumah sendirian. Dengan sangat terpaksa engkau meninggalkan anak bungsumu, agar kebutuhan keluarga dapat terpenuhi – dengan harapan anak bungsumu itu mampu hidup mandiri. Ibuku yang sangat baik hatinya, bagiku engkau adalah seorang pahlawan yang luar biasa karena engkau telah bertaruh nyawa untuk melahirkan anak-anakmu. Dengan kesabaranmu yang tiada terbatas engkau sangat menginginkan anak-anakmu menjadi pribadi yang luar biasa.
        Oh Ibu, betapa hebat dan anggunnya engkau mengamati setiap pertumbuhan dan perkembangan buah hatimu. Aku berjanji, dengan izin Tuhan aku akan menjadi anak yang berbakti kepada Ibu khususnya dan  kedua orang tua pada umumnya. Aku akan menjadi anak muda yang smart dan elegan, yang segera lulus studi dengan baik, dan mendapatkan pekerjaan sebagai tangga naikku menjadi pribadi yang berkelas, agar segera membanggakan dan membahagiakan kalian sebagai orang tuaku. Aku sangat mencintaimu Ibu. Setiap malam aku berbisik kepada Tuhan, agar Dia selalu membimbing setiap langkah hidupmu, membaikkan rezekimu, dan melimpahkan kesehatan dan umur yang panjang di dalam keluarga yang sejahtera dan penuh rahmat dengan Tuhan.
        Ibu, maafkanlah segala kesalahanku, terima kasih atas segala jasamu kepadaku selama ini. Semoga Tuhan selalu mendengar apa yang menjadi doaku setiap malam dan segera mengabulkannya, agar segera pula terdengar kabar baik yang mengatakan, “Ibu sangat bangga padamu, Nak.”Terima kasih Ibu. Aku sangat cinta Ibu.
Ibu, aku sadar bahwa engkau bukanlah orang yang
berpendidikan tinggi atau orang yang menguasai
banyak hal dan berbicara dalam banyak bahasa.

Itu menurutku tidak penting.
Sebab ada satu hal yang sering lalai kusadari,
engkau menguasai bahasa cinta dan kasih sayang.
I LOVE MY MOM.


Kamis, 02 Januari 2014

Cerita Kehidupan, Cita-Cita, dan Cara Mencapainya



Cerita Kehidupan, Cita-Cita, dan Cara Mencapainya
                                               
                             instiper.jpg                    
                                                                                  
                                  


Ini adalah cerita kehidupan mulai dari saya kecil hingga sekarang, dan kehidupan yang saya inginkan di masa yang akan datang serta cara-cara untuk meraih impian saya. Kehidupan saya waktu kecil cukup menyenangkan. Saya sangat menyayangi Bapak dan Ibu saya. Beranjak remaja, saya mulai tidak patuh kepada orang tua dan menjadi anak yang bandel. Saya sering tidak menaati perintah orang tua. Saya sangat menyesal dengan keadaan itu. Seiring berjalannya waktu, setelah saya memiliki dua orang adik laki-laki, saya semakin sadar betapa tak terbatas kasih orang tua pada anak-anaknya. Dan sekarang ini adalah saat yang tepat untuk saya memperbaiki kehidupan dan menanggalkan masa-masa kelam beberapa tahun yang lalu, sebagai tanggung jawab saya kepada orang tua.
Banyak orang yang dalam kehidupannya mengalami kegagalan, jatuh kemudian bangkit lagi - begitu seterusnya hingga menemukan suatu titik dimana akhirnya bisa sukses. Memang, kehidupan ini seperti roda yang berputar. Kadang kita berada di atas, kadang  juga berada di bawah. Tapi kita harus tetap ingat bahwa melihat ke atas kita harus berserah penuh kepada Tuhan, melihat ke bawah membuat kita lebih bersyukur karena ternyata kita masih beruntung dibandingkan saudara-saudara kita yang kekurangan. Melihat ke depan, kita harus mempunyai tujuan hidup yang jelas di masa depan dengan usaha-usaha yang optimal. Sedangkan melihat ke belakang kita bisa belajar dari masa lalu, karena hidup ini bukan tentang jatuh kita, tetapi tentang bangkitnya.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berbudaya, setiap manusia harus memiliki tujuan hidup yang jelas dan cara-cara untuk mencapainya. Adapun visi dan misi hidup saya:
·         Visi:
Menciptakan lapangan kerja dengan mendirikan sebuah perusahaan agribisnis dan membentuk suatu komunitas pertanian organik yang maju dan mandiri di daerah asal saya.
·         Misi:
1.      Menjadi ahli di bidang sosial-ekonomi pertanian
2.      Bekerja sama dengan industri pertanian/perkebunan
3.      Menjadi pengusaha agribisnis yang sukses
Sedangkan motto hidup saya yaitu “Pekerjaan apapun juga, harus dilakukan dengan sepenuh hati.”
Delapan belas tahun yang lalu, tepatnya tanggal 24 Maret 1995 saya lahir di kota Magelang, Jawa Tengah. Orang tua saya menamai saya Casius Ajang Wikarsa. Saya dan kedua orang tua saya tinggal di sebuah rumah yang sederhana di Jalan Nangka III No. 10, RT 03, RW 04, Kalinegoro, Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Kehidupan saya saat kecil cukup menyenangkan. Sejak kecil saya diasuh oleh seorang pembantu selama 6 tahun, karena Bapak dan Ibu saya bekerja. Tak jarang sepulang kerja Bapak membawakan oleh-oleh mainan kecil untuk saya. Saya senang sekali. Sampai akhirnya saya masuk ke Taman Kanak-Kanan (TK) Negeri Pembina Kalinegoro yang pada saat itu saya berusia 5 tahun. Saat kecil saya termasuk anak yang cengeng, karena pada waktu masuk sekolah untuk pertama kali saya menangis mencari Ibu. Saya juga anak yang aktif dan periang. Karena terlalu aktif sampai-sampai kaki saya penuh luka karena sering jatuh dari ayunan. Tapi dengan tingkah laku saya yang agak aneh, saya berhasil meraih juara I Lomba Mewarnai Gambar se-kecamatan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Sebuah prestasi yang cukup membanggakan.
Pada bulan Juli 2001, saya melanjutkan pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 5 Kalinegoro. Saya senang bisa bertemu kembali dengan beberapa teman sewaktu TK, karena pada waktu itu sekolah ini termasuk sekolah dasar terfavorit. Tak terduga di semester I di kelas 1, saya berhasil mendapatkan rangking 1. Berlanjut ke kelas 2 nilai saya mulai menurun. Prestasi saya pun merosot hingga berada di rangking 8. Di kelas 3 saya berusaha memperbaiki prestasi saya. Sampai akhirnya kelas 4 saya tidak terlalu kecewa dengan prestasi saya. Saya mendapat rangking 5 (setidaknya bisa masuk 10 besar). Kehidupan saya di Sekolah Dasar memang naik turun. Walaupun di awal tahun saya terkenal sebagai siswa yang lebih unggul dari yang lain, tapi sewaktu kelas 6 dan lulus nilai saya tergolong biasa-biasa saja dan beberapa teman saya berhasil merebut posisi rangking di atas saya. Mungkin karena kelakuan saya dan teman-teman yang ceroboh dan jarang memperhatikan guru di kelas saat menerangkan materi pelajaran.
Di tahun yang sama pada tanggal 1 November, saya dikaruniai Tuhan seorang adik laki-laki yang lucu dan imut seperti saya. Walaupun jarak antara kami kurang lebih 6 tahun, tapi saya sangat bersyukur. Saya berharap bisa menjadi lebih bertanggung jawab dan bisa memberi contoh yang baik untuk adik saya. Saya menjadi mengerti dan sadar akan perjuangan mulia seorang Ibu terhadap anaknya.
Masuk ke tahun 2007, Bapak saya pindah kerja ke Kalimantan Timur, tepatnya di daerah Tenggarong. Kehidupan saya terasa sunyi karena ditinggal Bapak kerja di luar pulau. Saya pun melampiaskan kesepian saya bersama teman-teman. Karena pengaruh salah satu teman yang nakal, saya pun menjadi anak yang bandel dan belum bisa mengurus adik dengan baik. Terus terang saja saya sering membantah perintah orang tua dan saya jarang belajar karena pengaruh acara di televisi. Yang saya sesali pada waktu itu, saya tidak mengindahkan nasihat Ibu saya.
 Pada tahun yang sama saya melanjutkan pendidikan sekolah menengah  di SMP Negeri 6 Kota Magelang. Karena pada waktu itu nilai saya pas-pasan, akhirnya saya berada pada peringkat 10 terbawah dari ± 200 siswa yang diterima di sekolah tersebut. Tak apalah yang penting saya bisa bersekolah. Terus terang masa-masa SMP saya seperti sekedar formalitas saja. Itu disebabkan karena pemikiran saya dulu belum cukup dewasa untuk memikirkan masa depan. Saya menjadi siswa yang biasa-biasa saja di SMP karena selama 3 tahun perilaku saya belum bisa berubah. Malas adalah penyakit mental saya pada waktu itu. Tapi satu hal yang perlu saya garis bawahi, bahwa perkembangan jiwa seni dan olah raga saya meningkat. Saya sudah bisa memainkan alat musik gitar. Saya dan dua orang teman saya berhasil membentuk sebuah band. Mungkin karena terlalu senang dengan musik dan belum bisa mengatur waktu, akhirnya pelajaran pun agak terbengkalai. Saya lebih berfokus bermain band daripada bersekolah. Saya lulus SMP dengan nilai yang rata-rata, tidak begitu bagus tetapi juga tidak jelek. Kesimpulan kehidupan pada waktu itu saya terpengaruh oleh kenakalan remaja, padahal saat itu saya sudah mempunyai dua orang adik. Saya merasa menjadi anak pertama sekaligus kakak yang belum bisa memberikan contoh yang baik untuk adik-adik saya.
Lanjut ke tahun 2010, atas keinginan orang tua, saya melanjutkan studi di SMK SPP Kanisius Ambarawa. Sekolah swasta yang berbasis Pertanian ini pada awalnya membuat saya terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar. Karena latar belakang orang tua saya bukan di bidang Pertanian, jadi terus terang saya belum mengerti hal apapun yang menyangkut Pertanian. Saya sempat menjadi anak nakal, karena mungkin sifat-sifat kenakalan saya pada waktu SMP masih terbawa. Awalnya memang malas – karena semua tidak sesuai dengan keinginan saya yang pada waktu itu ingin bersekolah di SMK Negeri di Magelang. Tapi seiring berjalannya waktu saya semakin sadar dan paham bahwa Pertanian itu sangat berperan penting dalam kehidupan sehari-hari manusia. Yang saya lakukan untuk menghilangkan rasa terpaksa dan malas adalah dengan bersyukur dan menjalani yang sudah ada. Sekolah ini mewajibkan siswanya untuk tinggal di asrama, dan pada waktu itu saya terpilih sebagai Wakil Ketua Asrama SMK SPP Kanisius Ambarawa periode 2011/2012. Oleh sebab itu kami dididik untuk lebih mandiri, karena jauh dari orang tua. Keadaan ini yang membuat saya prihatin. Sikap mandiri dan prihatin inilah yang muncul dari dalam diri saya untuk lebih bersemangat dalam menuntut ilmu dan membuktikan bahwa saya bisa membahagiakan dan membanggakan orang tua lewat jalur Pertanian.
Tak terduga, dengan kerja keras dan doa tentunya, saya berhasil meraih peringkat I pada semester pertama. Singkat kata, selama enam semester bersekolah di SMK SPP Kanisius Ambarawa saya belum pernah mendapatkan peringkat III ke bawah. Dengan prestasi yang cukup membanggakan itu, saya sering mengikuti lomba-lomba mata pelajaran antar SMA-SMK se-kabupaten Semarang. Walaupun belum pernah mendapat juara 1, tapi saya sangat senang dan bersyukur bisa mewakili Sekolah. Saya juga sempat menjabat sebagai Ketua OSIS periode 2011/2012. Saya bangga bisa bersekolah di SMK SPP Kanisius Ambarawa yang berfokus pada jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH) ini, karena tanpa sekolah ini saya tidak bisa melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Bedugul, Bali – selama tiga bulan. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan disana. Mulai dari pengenalan tanaman-tanaman organik, pembuatan pupuk bokasi, cara budidaya tanaman organik, cara pengendalian hama dan penyakit tanaman organik, cara pemanenan, kegiatan pasca panen, hingga pemasaran. Sekaligus pada akhir bulan kami berkesempatan untuk jalan-jalan di pulau Bali. Kehidupan saya saat remaja memang sulit diprediksi. Dari situ saya dapat menyimpulkan bahwa dalam kehidupan, terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi saya yakin bahwa Tuhan akan memberikan yang lebih baik dan sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada kedua orang tua saya serta minta maaf karena saya telah menganggap salah pandangan dari orang tua. Saya juga berterima kasih kepada SMK SPP Kanisius Ambarawa karena berkat Sekolah itu, saya bisa melanjutkan studi di Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta. Saya memutuskan untuk menekuni bidang Pertanian yang prospek kerjanya besar walaupun banyak dari masyarakat kita memandang sebelah mata bidang ini.
Memasuki kehidupan yang sekarang ini, saya semakin sadar akan makna hidup. Saat ini saya harus bersungguh-sungguh mengoptimalkan yang sudah Tuhan berikan kepada saya. Saya merasa kehidupan yang sekarang ini lebih damai dibanding beberapa tahun yang lalu. Saya harus lebih bisa berpikir rasional dan dewasa, karena saat ini saya bukan anak-anak lagi. Saya adalah remaja yang sedang membentuk kedewasaan saya. Saya harus menjadi anak muda yang sehat, jujur, rajin dan penuh syukur kepada Tuhan – yang giat menata diri dan agresif membangun masa depan yang cemerlang. Saat ini saya sedang menjalani kehidupan yang lebih berani dan mampu memberikan manfaat bagi sesama, walaupun seringkali sebaik-baiknya manusia pasti ada saja orang lain yang iri bahkan membenci diri saya. Tapi itu bukan suatu masalah. Satu-satunya cara mengatasinya adalah mengabaikan komentar yang tidak penting dan berfokus pada tujuan hidup saya. Akan lebih baik lagi kalau kita mampu memberikan senyuman terbaik dan mendoakan yang baik pada musuh kita. Saya bersyukur sekali karena Tuhan telah menuntun saya untuk melanjutkan studi kuliah di Instiper Yogyakarta. Saya yakin saya tidak salah pilih karena ini adalah pemberian yang terbaik dari Tuhan.
Rencana jangka pendek saya selama berkuliah di Instiper Yogyakarta 3,5 tahun ini yaitu  menjadi mahasiswa yang berprestasi dan aktif di organisasi maupun kelembagaan, yang bersegera tindakannya, menghilangkan kebiasaan menunda, dan tegas mengabaikan hal yang tidak penting – agar segera menyelesaikan skripsi dan bisa tamat S 1 dengan nilai dan Indeks Prestasi yang memuaskan. Tentunya juga agar bisa membanggakan orang tua yang telah mendidik saya selama ini sekaligus sebagai persembahan terbaik bagi Tuhan melalui prestasi saya. Karena sekecil-kecilnya masalah bisa dibesar-besarkan oleh mahasiswa yang memang niatnya tidak berangkat kuliah. Kehidupan saya 3,5 tahun ke depan merupakan suatu proses hidup yang harus saya jalani. Karena ada pepatah mengatakan, “Proses yang baik lebih baik daripada hasil yang baik.” Sedangkan rencana jangka panjang saya 5 tahun ke depan yaitu saya akan berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya di bidang pertanian/perkebunan agar saya cocok bagi kesuksesan dan rezeki yang baik. Mungkin awalnya menjadi pegawai atau asisten agronomi. Sambil menabung – setelah terkumpul cukup banyak modal, saya mempunyai impian untuk berwirausaha di sektor agribisnis. Saya akan mendirikan sebuah perusahaan dengan menjadi wirausahawan. Awalnya memang karyawan, tapi kelak saya akan menciptakan lapangan kerja. Alasan saya ingin menjadi seorang pengusaha, yaitu ibarat sebuah rumah tetapi yang tidak memiliki atap – yang tidak ada batasnya. Sedangkan pegawai ada batasnya. Saya akan menjadi anak muda yang sukses semuda mungkin yang mampu untuk lebih bertindak daripada menunda. Karena menurut saya sebaik-baiknya rencana adalah tindakan.
Cita-cita saya adalah menjadi seorang businessman yang sukses, mampu membahagiakan kedua orang tua saya dan terlebih demi memberikan persembahan yang terbaik bagi Tuhan. Harapan saya Tuhan selalu membimbing hidup saya, melindungi keluarga saya agar saya bisa menjadi manfaat bagi orang-orang di sekitar saya. Saya akan memimpikan yang besar. Untuk mencapai semua itu saya harus bisa menjadi anak muda yang pekerja keras, fokusnya kuat, bukan yang sulit memulai tapi yang tidak bisa berhenti mencoba, tetap belajar dengan rajin walau sedang galau, dan bersabar disertai doa yang tulus kepada Tuhan.
Demikian cerita singkat mengenai kehidupan dari saya kecil hingga sekarang dan kehidupan yang saya inginkan di masa yang akan datang. Semoga saya bisa menjadi pribadi yang semakin hari semakin baik. Dan semoga Tuhan mentenagai segala upaya saya agar kesuksesan yang saya inginkan bisa terwujud. Berikut ini adalah sebuah pernyataan yang menguatkan hati dan menjadi motivasi hidup saya:
Suatu saat nanti
            aku akan menjadi pribadi yang gagah,
            mapan dan dihormati kata-kataku,
            ditunggu kehadiranku, berpengaruh luas,
            dan hidup berbahagia di dalam keluarga
            yang sejahtera dan penuh rahmat dengan Tuhan.

            Betapa kecil dan tak berarti-nya para pembenci itu
nanti di masa depanku.

Hmm … betul, ternyata …
Pembalasan terbaik adalah sukses.

Semoga ya Tuhan,
Amin.

Ini adalah kesungguhan hatiku,
Sebagai janjiku kepada diriku sendiri,
Dan sebagai doa kepada Tuhan.

Nb: Jangan menertawakan doa orang lain, karena itu sama dengan 
meminta kebalikan dari doanya.