Kamis, 02 Januari 2014

Cerita Kehidupan, Cita-Cita, dan Cara Mencapainya



Cerita Kehidupan, Cita-Cita, dan Cara Mencapainya
                                               
                             instiper.jpg                    
                                                                                  
                                  


Ini adalah cerita kehidupan mulai dari saya kecil hingga sekarang, dan kehidupan yang saya inginkan di masa yang akan datang serta cara-cara untuk meraih impian saya. Kehidupan saya waktu kecil cukup menyenangkan. Saya sangat menyayangi Bapak dan Ibu saya. Beranjak remaja, saya mulai tidak patuh kepada orang tua dan menjadi anak yang bandel. Saya sering tidak menaati perintah orang tua. Saya sangat menyesal dengan keadaan itu. Seiring berjalannya waktu, setelah saya memiliki dua orang adik laki-laki, saya semakin sadar betapa tak terbatas kasih orang tua pada anak-anaknya. Dan sekarang ini adalah saat yang tepat untuk saya memperbaiki kehidupan dan menanggalkan masa-masa kelam beberapa tahun yang lalu, sebagai tanggung jawab saya kepada orang tua.
Banyak orang yang dalam kehidupannya mengalami kegagalan, jatuh kemudian bangkit lagi - begitu seterusnya hingga menemukan suatu titik dimana akhirnya bisa sukses. Memang, kehidupan ini seperti roda yang berputar. Kadang kita berada di atas, kadang  juga berada di bawah. Tapi kita harus tetap ingat bahwa melihat ke atas kita harus berserah penuh kepada Tuhan, melihat ke bawah membuat kita lebih bersyukur karena ternyata kita masih beruntung dibandingkan saudara-saudara kita yang kekurangan. Melihat ke depan, kita harus mempunyai tujuan hidup yang jelas di masa depan dengan usaha-usaha yang optimal. Sedangkan melihat ke belakang kita bisa belajar dari masa lalu, karena hidup ini bukan tentang jatuh kita, tetapi tentang bangkitnya.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berbudaya, setiap manusia harus memiliki tujuan hidup yang jelas dan cara-cara untuk mencapainya. Adapun visi dan misi hidup saya:
·         Visi:
Menciptakan lapangan kerja dengan mendirikan sebuah perusahaan agribisnis dan membentuk suatu komunitas pertanian organik yang maju dan mandiri di daerah asal saya.
·         Misi:
1.      Menjadi ahli di bidang sosial-ekonomi pertanian
2.      Bekerja sama dengan industri pertanian/perkebunan
3.      Menjadi pengusaha agribisnis yang sukses
Sedangkan motto hidup saya yaitu “Pekerjaan apapun juga, harus dilakukan dengan sepenuh hati.”
Delapan belas tahun yang lalu, tepatnya tanggal 24 Maret 1995 saya lahir di kota Magelang, Jawa Tengah. Orang tua saya menamai saya Casius Ajang Wikarsa. Saya dan kedua orang tua saya tinggal di sebuah rumah yang sederhana di Jalan Nangka III No. 10, RT 03, RW 04, Kalinegoro, Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Kehidupan saya saat kecil cukup menyenangkan. Sejak kecil saya diasuh oleh seorang pembantu selama 6 tahun, karena Bapak dan Ibu saya bekerja. Tak jarang sepulang kerja Bapak membawakan oleh-oleh mainan kecil untuk saya. Saya senang sekali. Sampai akhirnya saya masuk ke Taman Kanak-Kanan (TK) Negeri Pembina Kalinegoro yang pada saat itu saya berusia 5 tahun. Saat kecil saya termasuk anak yang cengeng, karena pada waktu masuk sekolah untuk pertama kali saya menangis mencari Ibu. Saya juga anak yang aktif dan periang. Karena terlalu aktif sampai-sampai kaki saya penuh luka karena sering jatuh dari ayunan. Tapi dengan tingkah laku saya yang agak aneh, saya berhasil meraih juara I Lomba Mewarnai Gambar se-kecamatan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Sebuah prestasi yang cukup membanggakan.
Pada bulan Juli 2001, saya melanjutkan pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 5 Kalinegoro. Saya senang bisa bertemu kembali dengan beberapa teman sewaktu TK, karena pada waktu itu sekolah ini termasuk sekolah dasar terfavorit. Tak terduga di semester I di kelas 1, saya berhasil mendapatkan rangking 1. Berlanjut ke kelas 2 nilai saya mulai menurun. Prestasi saya pun merosot hingga berada di rangking 8. Di kelas 3 saya berusaha memperbaiki prestasi saya. Sampai akhirnya kelas 4 saya tidak terlalu kecewa dengan prestasi saya. Saya mendapat rangking 5 (setidaknya bisa masuk 10 besar). Kehidupan saya di Sekolah Dasar memang naik turun. Walaupun di awal tahun saya terkenal sebagai siswa yang lebih unggul dari yang lain, tapi sewaktu kelas 6 dan lulus nilai saya tergolong biasa-biasa saja dan beberapa teman saya berhasil merebut posisi rangking di atas saya. Mungkin karena kelakuan saya dan teman-teman yang ceroboh dan jarang memperhatikan guru di kelas saat menerangkan materi pelajaran.
Di tahun yang sama pada tanggal 1 November, saya dikaruniai Tuhan seorang adik laki-laki yang lucu dan imut seperti saya. Walaupun jarak antara kami kurang lebih 6 tahun, tapi saya sangat bersyukur. Saya berharap bisa menjadi lebih bertanggung jawab dan bisa memberi contoh yang baik untuk adik saya. Saya menjadi mengerti dan sadar akan perjuangan mulia seorang Ibu terhadap anaknya.
Masuk ke tahun 2007, Bapak saya pindah kerja ke Kalimantan Timur, tepatnya di daerah Tenggarong. Kehidupan saya terasa sunyi karena ditinggal Bapak kerja di luar pulau. Saya pun melampiaskan kesepian saya bersama teman-teman. Karena pengaruh salah satu teman yang nakal, saya pun menjadi anak yang bandel dan belum bisa mengurus adik dengan baik. Terus terang saja saya sering membantah perintah orang tua dan saya jarang belajar karena pengaruh acara di televisi. Yang saya sesali pada waktu itu, saya tidak mengindahkan nasihat Ibu saya.
 Pada tahun yang sama saya melanjutkan pendidikan sekolah menengah  di SMP Negeri 6 Kota Magelang. Karena pada waktu itu nilai saya pas-pasan, akhirnya saya berada pada peringkat 10 terbawah dari ± 200 siswa yang diterima di sekolah tersebut. Tak apalah yang penting saya bisa bersekolah. Terus terang masa-masa SMP saya seperti sekedar formalitas saja. Itu disebabkan karena pemikiran saya dulu belum cukup dewasa untuk memikirkan masa depan. Saya menjadi siswa yang biasa-biasa saja di SMP karena selama 3 tahun perilaku saya belum bisa berubah. Malas adalah penyakit mental saya pada waktu itu. Tapi satu hal yang perlu saya garis bawahi, bahwa perkembangan jiwa seni dan olah raga saya meningkat. Saya sudah bisa memainkan alat musik gitar. Saya dan dua orang teman saya berhasil membentuk sebuah band. Mungkin karena terlalu senang dengan musik dan belum bisa mengatur waktu, akhirnya pelajaran pun agak terbengkalai. Saya lebih berfokus bermain band daripada bersekolah. Saya lulus SMP dengan nilai yang rata-rata, tidak begitu bagus tetapi juga tidak jelek. Kesimpulan kehidupan pada waktu itu saya terpengaruh oleh kenakalan remaja, padahal saat itu saya sudah mempunyai dua orang adik. Saya merasa menjadi anak pertama sekaligus kakak yang belum bisa memberikan contoh yang baik untuk adik-adik saya.
Lanjut ke tahun 2010, atas keinginan orang tua, saya melanjutkan studi di SMK SPP Kanisius Ambarawa. Sekolah swasta yang berbasis Pertanian ini pada awalnya membuat saya terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar. Karena latar belakang orang tua saya bukan di bidang Pertanian, jadi terus terang saya belum mengerti hal apapun yang menyangkut Pertanian. Saya sempat menjadi anak nakal, karena mungkin sifat-sifat kenakalan saya pada waktu SMP masih terbawa. Awalnya memang malas – karena semua tidak sesuai dengan keinginan saya yang pada waktu itu ingin bersekolah di SMK Negeri di Magelang. Tapi seiring berjalannya waktu saya semakin sadar dan paham bahwa Pertanian itu sangat berperan penting dalam kehidupan sehari-hari manusia. Yang saya lakukan untuk menghilangkan rasa terpaksa dan malas adalah dengan bersyukur dan menjalani yang sudah ada. Sekolah ini mewajibkan siswanya untuk tinggal di asrama, dan pada waktu itu saya terpilih sebagai Wakil Ketua Asrama SMK SPP Kanisius Ambarawa periode 2011/2012. Oleh sebab itu kami dididik untuk lebih mandiri, karena jauh dari orang tua. Keadaan ini yang membuat saya prihatin. Sikap mandiri dan prihatin inilah yang muncul dari dalam diri saya untuk lebih bersemangat dalam menuntut ilmu dan membuktikan bahwa saya bisa membahagiakan dan membanggakan orang tua lewat jalur Pertanian.
Tak terduga, dengan kerja keras dan doa tentunya, saya berhasil meraih peringkat I pada semester pertama. Singkat kata, selama enam semester bersekolah di SMK SPP Kanisius Ambarawa saya belum pernah mendapatkan peringkat III ke bawah. Dengan prestasi yang cukup membanggakan itu, saya sering mengikuti lomba-lomba mata pelajaran antar SMA-SMK se-kabupaten Semarang. Walaupun belum pernah mendapat juara 1, tapi saya sangat senang dan bersyukur bisa mewakili Sekolah. Saya juga sempat menjabat sebagai Ketua OSIS periode 2011/2012. Saya bangga bisa bersekolah di SMK SPP Kanisius Ambarawa yang berfokus pada jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH) ini, karena tanpa sekolah ini saya tidak bisa melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Bedugul, Bali – selama tiga bulan. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan disana. Mulai dari pengenalan tanaman-tanaman organik, pembuatan pupuk bokasi, cara budidaya tanaman organik, cara pengendalian hama dan penyakit tanaman organik, cara pemanenan, kegiatan pasca panen, hingga pemasaran. Sekaligus pada akhir bulan kami berkesempatan untuk jalan-jalan di pulau Bali. Kehidupan saya saat remaja memang sulit diprediksi. Dari situ saya dapat menyimpulkan bahwa dalam kehidupan, terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi saya yakin bahwa Tuhan akan memberikan yang lebih baik dan sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada kedua orang tua saya serta minta maaf karena saya telah menganggap salah pandangan dari orang tua. Saya juga berterima kasih kepada SMK SPP Kanisius Ambarawa karena berkat Sekolah itu, saya bisa melanjutkan studi di Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta. Saya memutuskan untuk menekuni bidang Pertanian yang prospek kerjanya besar walaupun banyak dari masyarakat kita memandang sebelah mata bidang ini.
Memasuki kehidupan yang sekarang ini, saya semakin sadar akan makna hidup. Saat ini saya harus bersungguh-sungguh mengoptimalkan yang sudah Tuhan berikan kepada saya. Saya merasa kehidupan yang sekarang ini lebih damai dibanding beberapa tahun yang lalu. Saya harus lebih bisa berpikir rasional dan dewasa, karena saat ini saya bukan anak-anak lagi. Saya adalah remaja yang sedang membentuk kedewasaan saya. Saya harus menjadi anak muda yang sehat, jujur, rajin dan penuh syukur kepada Tuhan – yang giat menata diri dan agresif membangun masa depan yang cemerlang. Saat ini saya sedang menjalani kehidupan yang lebih berani dan mampu memberikan manfaat bagi sesama, walaupun seringkali sebaik-baiknya manusia pasti ada saja orang lain yang iri bahkan membenci diri saya. Tapi itu bukan suatu masalah. Satu-satunya cara mengatasinya adalah mengabaikan komentar yang tidak penting dan berfokus pada tujuan hidup saya. Akan lebih baik lagi kalau kita mampu memberikan senyuman terbaik dan mendoakan yang baik pada musuh kita. Saya bersyukur sekali karena Tuhan telah menuntun saya untuk melanjutkan studi kuliah di Instiper Yogyakarta. Saya yakin saya tidak salah pilih karena ini adalah pemberian yang terbaik dari Tuhan.
Rencana jangka pendek saya selama berkuliah di Instiper Yogyakarta 3,5 tahun ini yaitu  menjadi mahasiswa yang berprestasi dan aktif di organisasi maupun kelembagaan, yang bersegera tindakannya, menghilangkan kebiasaan menunda, dan tegas mengabaikan hal yang tidak penting – agar segera menyelesaikan skripsi dan bisa tamat S 1 dengan nilai dan Indeks Prestasi yang memuaskan. Tentunya juga agar bisa membanggakan orang tua yang telah mendidik saya selama ini sekaligus sebagai persembahan terbaik bagi Tuhan melalui prestasi saya. Karena sekecil-kecilnya masalah bisa dibesar-besarkan oleh mahasiswa yang memang niatnya tidak berangkat kuliah. Kehidupan saya 3,5 tahun ke depan merupakan suatu proses hidup yang harus saya jalani. Karena ada pepatah mengatakan, “Proses yang baik lebih baik daripada hasil yang baik.” Sedangkan rencana jangka panjang saya 5 tahun ke depan yaitu saya akan berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya di bidang pertanian/perkebunan agar saya cocok bagi kesuksesan dan rezeki yang baik. Mungkin awalnya menjadi pegawai atau asisten agronomi. Sambil menabung – setelah terkumpul cukup banyak modal, saya mempunyai impian untuk berwirausaha di sektor agribisnis. Saya akan mendirikan sebuah perusahaan dengan menjadi wirausahawan. Awalnya memang karyawan, tapi kelak saya akan menciptakan lapangan kerja. Alasan saya ingin menjadi seorang pengusaha, yaitu ibarat sebuah rumah tetapi yang tidak memiliki atap – yang tidak ada batasnya. Sedangkan pegawai ada batasnya. Saya akan menjadi anak muda yang sukses semuda mungkin yang mampu untuk lebih bertindak daripada menunda. Karena menurut saya sebaik-baiknya rencana adalah tindakan.
Cita-cita saya adalah menjadi seorang businessman yang sukses, mampu membahagiakan kedua orang tua saya dan terlebih demi memberikan persembahan yang terbaik bagi Tuhan. Harapan saya Tuhan selalu membimbing hidup saya, melindungi keluarga saya agar saya bisa menjadi manfaat bagi orang-orang di sekitar saya. Saya akan memimpikan yang besar. Untuk mencapai semua itu saya harus bisa menjadi anak muda yang pekerja keras, fokusnya kuat, bukan yang sulit memulai tapi yang tidak bisa berhenti mencoba, tetap belajar dengan rajin walau sedang galau, dan bersabar disertai doa yang tulus kepada Tuhan.
Demikian cerita singkat mengenai kehidupan dari saya kecil hingga sekarang dan kehidupan yang saya inginkan di masa yang akan datang. Semoga saya bisa menjadi pribadi yang semakin hari semakin baik. Dan semoga Tuhan mentenagai segala upaya saya agar kesuksesan yang saya inginkan bisa terwujud. Berikut ini adalah sebuah pernyataan yang menguatkan hati dan menjadi motivasi hidup saya:
Suatu saat nanti
            aku akan menjadi pribadi yang gagah,
            mapan dan dihormati kata-kataku,
            ditunggu kehadiranku, berpengaruh luas,
            dan hidup berbahagia di dalam keluarga
            yang sejahtera dan penuh rahmat dengan Tuhan.

            Betapa kecil dan tak berarti-nya para pembenci itu
nanti di masa depanku.

Hmm … betul, ternyata …
Pembalasan terbaik adalah sukses.

Semoga ya Tuhan,
Amin.

Ini adalah kesungguhan hatiku,
Sebagai janjiku kepada diriku sendiri,
Dan sebagai doa kepada Tuhan.

Nb: Jangan menertawakan doa orang lain, karena itu sama dengan 
meminta kebalikan dari doanya.

2 komentar:

  1. Blognya menyentuh. Terasa tulus. Senang sy sdh mampir. Trm ksh

    BalasHapus
  2. http://kreasimasadepan441.blogspot.com/2017/11/liburan-mewah-senilai-harga-rumah-setya.html
    http://kreasimasadepan441.blogspot.com/2017/11/penjualan-saham-inter-kepada-china.html
    http://kreasimasadepan441.blogspot.com/2017/11/kamboja-tolak-mentah-mentah-bantuan.html

    Tunggu Apa Lagi Guyss..
    Let's Join With Us At Dominovip.com ^^
    Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami :
    - BBM : D8809B07 / 2B8EC0D2
    - WHATSAPP : +62813-2938-6562
    - LINE : DOMINO1945.COM
    - No Hp : +855-8173-4523

    BalasHapus