MAKALAH AGAMA KONTEKSTUAL KATOLIK
PERAN RASUL AWAM MUDA KATOLIK DI TENGAH
PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME
Disusun oleh:
Nama :
Casius Ajang Wikarsa
NIM :
13/15567/EP-S.Agb
Kelas :
Agribisnis (B)
INSTITUT PERTANIAN STIPER (INSTIPER)
YOGYAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia
merupakan negara yang penuh warna. Banyak cinta dan rasa hormat tumbuh di bawah
pelangi Bhinneka. Kita semua berharap agar bangsa ini tetap puspawarna
selamanya. Dan keadilan juga potensi alam bangsa ini bisa dinikmati oleh semua warga Indonesia tak peduli suku, agama, ras, maupun
status sosialnya. Keanekaragaman itulah yang menjadi kekayaan Indonesia.
Selama ini kita beranggapan
bahwa dengan keberagaman tersebut kita bisa saling melengkapi untuk menuju
cita-cita bangsa Indonesia ini di bawah naungan Pancasila. Namun pada
praktiknya, pluralisme dan multikulturalisme justru menjadi hambatan kita
beragama. Hal itu bisa terjadi karena adanya perbedaan konsep keagamaan.Yang
menarik disini adalah munculnya sikap mengkotak-kotakkan agama tertentu.
Maksudnya adalah menjadikan sebuah agama itu terbelenggu, dan hal itulah yang
bisa menyebabkan perpecahan antar umat beragama. Dampak negatif lainnya yang
timbul adalah sikap membeda-bedakan agama yang satu dengan yang lain. Padahal
di dalam ajaran agama, nilai-nilai baik selalu diajarkan.
Pluralisme merupakan paham yang mentoleransi dan mengakui
akan kebenaran tentang adanya keanekaragaman. Pluralisme berasal dari dua kata,
yaitu plural yang berarti jamak/beragam, dan isme yang berarti paham. Jadi
pluralisme dapat diartikan sebagai paham keberagaman. Keberagaman yang dimaksud
antara lain meliputi sisi pemikiran, peradaban, kepercayaan, budaya dan juga
agama. Sedangkan multikulturalisme berasal dari dua kata yaitu multi (banyak)
dan kultural (budaya). Multikulturalisme merupakan keberagaman budaya.
Multikulturalisme dapat menggambarkan tentang kondisi negara Indonesia yang
memiliki kekayaan berupa suku, ras, budaya, dan agama.
BAB II
REALITAS DAN TANTANGAN SAAT INI
Pelanggaran
Kebebasan Agama Bak Penyakit Menular
Jakarta - Lembaga
Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) menilai pelanggaran terhadap kebebasan
dalam menjalankan keyakinan atau dalam beragama seperti penyakit menular. Pola
pelanggaran kebebasan beragama di beberapa wilayah selalu sama.
"Contohnya kasus Gereja Kristen Indonesia Yasmin di Bogor, belum selesai kasus tersebut sudah muncul lagi di Bekasi yaitu Huria Kristen Batak Protestan Filadelfia," kata Koordinator Bidang Kebijakan Elsam, Wahyudi Djafar pada Ahad, 3 Juni 2012.
Menurut Wahyudi cara pelanggaran kebebasan beragama rata-rata sama yaitu mempermasalahkan izin dan juga dalih penolakan dari warga sekitar. "Bukan hanya di Jawa di Riau dan Jambi pun kami mencatat kasus serupa dengan cara yang sama terjadi," ucapnya.
Dia menilai persebaran pelannggaran seperti itu terus meluas. Jika pada tahun 2010-2011 konsentrasi pelanggaran masih di Jawa, khususnya bagian barat kini sudah menyebar ke daerahlain.
Hal ini menurut Wahyudi bisa terjadi karena pemerintah daerah ikut terlibat di dalam pelanggaran tersebut. "Pembiaran yang dilakukan pemerintah pusat juga menjadikan daerah lain bisa berbuat hal yang sama tanpa merasa takut," kata peneliti hukum dan hak asasi manusia Elsam tersebut. Elsam juga melihat elemen masyarakat yang kerap membawa atribut agama juga ikut memicu sengketa di daerah-daerah lain. Menurut Wahyudi, pemerintah lemah terhadap desakan elemen tersebut.[1]
"Contohnya kasus Gereja Kristen Indonesia Yasmin di Bogor, belum selesai kasus tersebut sudah muncul lagi di Bekasi yaitu Huria Kristen Batak Protestan Filadelfia," kata Koordinator Bidang Kebijakan Elsam, Wahyudi Djafar pada Ahad, 3 Juni 2012.
Menurut Wahyudi cara pelanggaran kebebasan beragama rata-rata sama yaitu mempermasalahkan izin dan juga dalih penolakan dari warga sekitar. "Bukan hanya di Jawa di Riau dan Jambi pun kami mencatat kasus serupa dengan cara yang sama terjadi," ucapnya.
Dia menilai persebaran pelannggaran seperti itu terus meluas. Jika pada tahun 2010-2011 konsentrasi pelanggaran masih di Jawa, khususnya bagian barat kini sudah menyebar ke daerahlain.
Hal ini menurut Wahyudi bisa terjadi karena pemerintah daerah ikut terlibat di dalam pelanggaran tersebut. "Pembiaran yang dilakukan pemerintah pusat juga menjadikan daerah lain bisa berbuat hal yang sama tanpa merasa takut," kata peneliti hukum dan hak asasi manusia Elsam tersebut. Elsam juga melihat elemen masyarakat yang kerap membawa atribut agama juga ikut memicu sengketa di daerah-daerah lain. Menurut Wahyudi, pemerintah lemah terhadap desakan elemen tersebut.[1]
BAB III
RESPON
SEBAGAI SEORANG YANG BERIMAN
TERHADAP
TANTANGAN ZAMAN MODERN
Perubahan prinsip
atau pun pedoman hidup manusia menyebabkan berubahnya sikap hidup manusia,
terlebih anak muda pada zaman sekarang. Hal itu bisa terjadi karena adanya
globalisasi, yaitu suatu proses atau masa dimana segalanya mengalami
penyeragaman yang mendunia, yang berdampak pada aktivitas atau kegiatan manusia
menjadi serba cepat dan instan. Menyangkut pluralisme dan multikulturalisme,
globalisasi bisa menjadi sangat berbahaya jika dibiarkan karena dapat berakibat
pada lunturnya etika agama dan berkurangnya penerapan nilai-nilai Pancasila
terutama kita sebagai warga Indonesia. Maka dengan masalah tersebut di atas,
kita sebagai mahasiswa katolik diharapkan bisa menjadi rasul awam muda yang
lebih mampu untuk bertindak tegas, menjadi kader-kader muda katolik yang
militan dan bisa menyeleksi hal-hal positif dari dampak globalisasi di tengah
pluralisme dan multikulturalisme yang terjadi di Indonesia saat ini.
Sebagai anak muda katolik saya prihatin dengan keadaan yang
terjadi seperti sekarang ini. Saya melihat tidak adanya sinergi untuk saling
membangun bangsa ini. Yang ada malah saling menguasai. Sebagai contoh adalah
para koruptor disana. Para koruptor menginginkan dirinya bisa kaya secara cepat
dengan cara yang tidak halal. Itu merupakan salah satu bukti dari dampak
globalisasi. Menjadi pantas apabila hidup mereka tidak damai karena selalu dihantui
rasa bersalah. Untuk menghadapi keadaan yang demikian di tengah aneka tantangan
zaman ini tentunya dibutuhkan pribadi yang memiliki sikap yang tangguh. Sikap
tangguh yang harus dimiliki terkait peran kita sebagai rasul awam muda agar
bisa berpotensi untuk menjadi pemimpin pada masa yang akan datang yaitu kita
dituntut untuk mempunyai sikap yang lebih atau nilai plus dalam diri kita
daripada yang lain. Yang kedua kita harus ikut memikul salib kristus, artinya
kita tidak boleh cepat putus asa, pantang menyerah, dan tetap memiliki hati
sebagai hamba yang selalu taat dan setia kepada Allah. Yang ketiga kita harus
tetap menjalani ajaran-ajaran Yesus dan menghargai hal-hal kecil karena itu
mencerminkan pribadi yang bertanggung jawab.
BAB IV
REFLEKSI PRIBADI
Sebagai rasul awam, kita seharusnya mampu untuk menghadapi
aneka tantangan pada zaman sekarang ini. Rasul awam yaitu setiap orang katolik
yang telah menerima sakramen babtis tetapi tidak ditahbiskan. Setiap
tindakan/aksi para rasul awam seharusnya bisa menghadirkan kerajaan Allah di
dalam tahta dunia. Rasul awam harus mengetahui dan memahami perannya agar tidak
terjerumus atau pun mengikuti arus global tanpa memikirkan dampak yang akan
ditanggung. Akan lebih bermanfaat lagi jika kita mampu melalukan aksi konkrit
untuk menyelamatkan keadaan lingkungan sekitar yang sudah terlanjur mengglobal.
Saya melihat diri saya sedikit demi sedikit secara
berkelanjutan telah mengimplementasikan apa yang sudah diajarkan. Disini saya
mempunyai visi yaitu menjadi anak muda katolik yang berani menembus batas.
Menembus batas yang dimaksud adalah berani pergi ke wilayah atau zona yang
tidak nyaman. Contoh kecil yaitu saat sebagian besar teman-teman saya nyaman
berada di kost (tiduran dan bersantai), saya memilih untuk sibuk di komunitas
dengan mengikuti berbagai kegiatan di organisasi. Ini adalah salah satu bentuk
konkrit yang dapat dilakukan karena dapat menunjukkan bahwa dengan berada di
zona tidak nyaman, kita menjadi berani berjuang, berani berjerih payah, berani
lelah, dan berani gagal untuk kebaikan dan sebagai persembahan bagi Tuhan. Hal
ini saya lakukan karena kita semua percaya bahwa Tuhan telah menjamin dan
merajai hidup kita. Dan menurut saya keberanian yang sesungguhnya merupakan
bukti dari iman.
BAB V
KESIMPULAN
Dari makalah yang telah saya buat, dapat disimpulkan bahwa
peran rasul awam muda katolik yang mau peduli dengan keadaan lingkungan dan
mampu bertindak dengan aksi konkrit pada zaman sekarang ini sangat dibutuhkan.
Disamping untuk mencetak pioner-pioner pemimpin yang bertanggung jawab pada
masa yang akan datang, juga diharapkan mampu untuk menjadi pengontrol budaya
masyarakat yang semakin tidak terkendali di tengah pluralisme dan
multikulturalisme. Yang jelas kita semua umat yang percaya kepada Allah harus bisa
meneladani hidup Yesus sendiri dan kita juga harus mampu menjadi rasul yang
ke-13 dengan menerapkan konsep hidup rohani yang baik, tanggung jawab di
masyarakat baik, dan tentunya mengenai peran kita sebagai rasul awam yang tidak
boleh dilupakan. Saya berharap agar kita semua khususnya umat katolik bisa
saling bekerja sama membangun hubungan sosial yang baik menurut peran kita
masing-masing karena kita diutus untuk menjadi pewarta sabda Allah sekaligus
memberikan teladan sikap yang baik dan peduli terhadap sesama.

jos
BalasHapus